Mereka hanya menerima cargo International, penerbangan charter International dan VIP/private jet, dimana pengawasan nya akan jauh lebih mudah. Sedangkan sisanya mereka gunakan untuk jalur2 domestik.
Baca Juga: Mengangkat Batik Lurik Ala Klaten Fashion Festival Untuk Dorong Industri Kreatif
Di sinilah kelatahan kita melihat Bandara Internasional itu sama dengan artinya menerima semua turis asing melalui jalur komersial atau reguler flight.
Apakah kita sudah terlambat atau terlalu besar gengsi kita untuk menutup Bandara2 Internasional tersebut. Kita harus melihat anak bangsa yang semakin terancam oleh potensi penyebaran narkoba International, hal ini bukan main2 mengingat makin banyak generasi penerus menggunakan narkoba yang di dapat dari luar negeri, hingga penuh penjara kita (70% isi narapidana adalah yang melakukan pelanggaran terkait penggunaan/penyebaran narkoba).
Baca Juga: Beroperasionalnya BRT Koridor 7, Sangat Membantu Warga Wonogiri. Ini Haltenya
Akan kah kita akan terus, atas nama pengembangan industri pariwisata, membuka atau membiarkan bandara2 internasional itu sebagai pintu2 yang terbuka akan masuknya “musuh-musuh” yang merugikan anak2 bangsa?
Mari kita sejenak bersama untuk berubah dan berembuk menentukan hal terbaik untuk bangsa ini. (Ari Askhara , Pengamat Industri Penerbangan)
Artikel Terkait
Pesawat Amphibi Buatan Indonesia Siap Menjelajah Nusantara
Sah! Indonesia Membeli 42 Pesawat Jet Rafale Dassault. Begini Profil dan Spesifikasi Jet Rafale
Wow! UGM Bikin Mobil Listrik GATe untuk Transportasi di Bandara YIA
Bandara Jenderal Besar Soedirman Purbalingga Kembali Melayani Penerbangan Komersial
Horee! Mau ke Pulau Komodo Bisa Langsung Dari Jakarta Menggunakan Pesawat ke Bandara Komodo Labuan Bajo
Setelah Bandara di Papua Selatan Beroperasi, Presiden Ingin Keterisolasian Wilayah Terbuka
Presiden: Mempermudah Konektivitas ke Bandara Kertajati