Pencipta berhak menjaga makna dan integritas karyanya. Ia bisa menolak jika lagunya diubah makna, dijadikan jingle politik, atau dinyanyikan tanpa konteks yang sesuai.
Hak moral adalah suara hati yang dilindungi hukum. Karena seni, sejatinya, lahir dari batin. Dan batin berhak dihormati.
Baca Juga: Cara Daftar Antrian Sembako KJP Plus DKI Jakarta Juni 2025 dan Tips Pengambilan Tiket Online
Tahun 2000-an mengguncang sistem. Napster membuat musik gratis. Industri rekaman runtuh. Tapi dari reruntuhan itu lahir Spotify, YouTube, Apple Music. Sistem baru: micro-royalty—dibayar tiap kali lagu diputar, meski hanya beberapa sen.
Namun, pembagian keuntungan menimbulkan kegelisahan. Komposer kecil merasa diabaikan. Maka muncul gerakan: #PaySongwriters.
Sistem ini bekerja, tapi belum adil sepenuhnya. Yang kuat tetap dominan, yang lemah tetap harus bersuara lebih keras untuk didengar.
Hari ini, tantangan baru datang dari AI dan NFT.
Lagu kini bisa diciptakan mesin. Siapa penciptanya? Siapa pemilik haknya?
Di sisi lain, NFT membuka peluang baru: lagu bisa dijual langsung ke penggemar, dengan sistem kontrak cerdas yang membayar royalti otomatis tiap kali dijual ulang.
Sistem ini bisa transparan. Tapi juga bisa tak manusiawi, jika suara hati diabaikan.
Baca Juga: Jadwal Ganjil Genap dan Sistem One Way ke Puncak Bogor Jumat-Minggu 13, 14, 15 Juni 2025
Royalti adalah pengakuan—bahwa setiap nada punya hak.
Bahwa karya seni bukan hanya ekspresi, tapi juga kepemilikan.
Dan bahwa keindahan, bila tak dihargai secara adil, bisa terluka.
Di dunia yang bising oleh suara tanpa nama, keadilan bagi pencipta lagu bukan hanya soal hukum. Ia soal nurani.
Dari Bourget di Paris, Keenan di Jakarta, hingga Swift di Nashville, dunia terus belajar:
bahwa di balik suara, ada jiwa yang bekerja diam-diam.
Ia mungkin tak dikenal. Tapi suatu malam, ia pernah duduk sendiri—menulis lagu yang kini mengisi hidup kita semua.
Dan kita, pendengarnya, berutang rasa hormat.***
Artikel Terkait
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK
KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP
'PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPIONS EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA' Oleh: Denny JA
'ARTIFICIAL INTELLIGENCE TAK MEMBUNUH PENULIS, TAPI MENGUBAHNYA', Oleh Denny JA
OPINI "Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat" Oleh: Budiawan, Host "Cangkrukan"
'ELON MUSK PUN SERUKAN PEMECATAN DONALD TRUMP', Oleh Denny JA
"ROYALTI LAGU DI INDONESIA DAN KISAH KEENAN NASUTION MENUNTUT 24,5 MILIAR RUPIAH", Oleh Denny JA