Lagu Nuansa Bening, ciptaan Keenan Nasution, telah menjadi bagian dari sejarah musik pop Indonesia. Ia dinyanyikan ulang, dibawakan di banyak panggung, dan melekat di ingatan kolektif.
Namun, Keenan merasa tak mendapat penghargaan semestinya atas pemakaian lagunya oleh Vidi Aldiano.
Pada sebuah wawancara, Keenan menyampaikan bahwa hatinya terguncang saat berkali-kali mendengar Nuansa Bening dinyanyikan di berbagai panggung nasional—tanpa pernah diajak bicara, tanpa satu sen pun ia terima.
Lagu itu lahir dari luka dan cinta, ujarnya. Tapi setelah dinyanyikan ulang, seolah ia tak lagi memiliki hak bahkan atas kenangannya sendiri.
Di sisi lain, Vidi Aldiano yang sedang menjalani pengobatan kanker, memilih untuk tak banyak bicara.
Ia mengatakan melalui tim hukumnya bahwa proses izin telah diajukan dan bahkan ditawarkan pembayaran, namun tidak mencapai kesepakatan.
Ia menyanyikan lagu itu karena cinta. Ia justru ingin menghidupkannya kembali, ujar Vidi di awal tahun.
Di antara mereka terbentang wilayah abu-abu: soal perizinan, kontrak lisensi, dan bagaimana sistem royalti Indonesia bekerja.
Apakah lagu itu dipakai dengan izin sah dari pemegang hak? Apakah pembagian royalti dilakukan dengan adil?
Ataukah ada kekosongan sistem yang membuat niat baik jadi salah paham?
Indonesia mengadopsi sistem kolektif lewat UU Hak Cipta No. 28 Tahun 2014, dengan LMKN sebagai lembaga pengelolanya.
Tapi sejumlah pencipta merasa sistem ini tak transparan, terlalu birokratis, dan tak berpihak pada mereka. Maka sebagian memilih direct license—berizin langsung ke pengguna.
Celakanya, UU kita belum sepenuhnya mengatur benturan antara dua sistem itu. Akibatnya, konflik seperti Keenan–Vidi menjadi semakin personal, padahal akarnya adalah kebingungan sistemik.
Baca Juga: Panduan Pengelolaan e-Ijazah 2025, Verifikasi Data hingga Cetak Nomor Ijazah
Tapi ada satu hal yang lebih hakiki: hak moral.
Artikel Terkait
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK
KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP
'PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPIONS EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA' Oleh: Denny JA
'ARTIFICIAL INTELLIGENCE TAK MEMBUNUH PENULIS, TAPI MENGUBAHNYA', Oleh Denny JA
OPINI "Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat" Oleh: Budiawan, Host "Cangkrukan"
'ELON MUSK PUN SERUKAN PEMECATAN DONALD TRUMP', Oleh Denny JA
"ROYALTI LAGU DI INDONESIA DAN KISAH KEENAN NASUTION MENUNTUT 24,5 MILIAR RUPIAH", Oleh Denny JA