Baca Juga: Resmi Dibuka! Pendaftaran Sekolah Kedinasan STIP Jakarta 2025 hingga 20 Juni
Tahun 2015, Robin Thicke dan Pharrell Williams digugat oleh keluarga Marvin Gaye karena Blurred Lines dinilai meniru “groove” dari Got to Give It Up.
Mereka kalah, dan membayar lebih dari 5 juta dolar. Kasus ini menjadi sinyal bahwa bahkan nuansa musikal pun dapat dilindungi hukum.
Lain halnya dengan Taylor Swift. Ia tak digugat. Namun ketika hak atas master rekaman albumnya dibeli oleh pihak lain, ia merasa kehilangan kendali atas hidup seninya.
Baca Juga: Kuliah S1 Gratis? Yuk Daftar BSI Scholarship Prestasi Unggulan 2025!
Ia tak menggugat. Ia melawan dengan mencipta ulang.
Ia merekam semua albumnya dalam versi baru—Taylor’s Version. Dengan itu, ia merebut kembali otonominya sebagai pencipta, bukan lewat pengadilan, tapi melalui kekuatan kreatif.
Apa yang membedakan mereka dengan kita?
Satu kata: sistem.
Di Amerika dan Inggris, sistem pengelolaan royalti telah lama tertata. Lembaga seperti ASCAP, BMI, atau PRS mencatat penggunaan lagu secara otomatis dan mendistribusikan royalti secara adil.
Tidak ada lagi ruang bagi pengingkaran. Tidak ada lagi celah bagi pelupa.
Di Indonesia, sistem ini masih lemah. Maka ketika penghormatan tidak hadir, dan mediasi gagal, sengketa seperti Keenan vs Vidi meledak. Itu segera menjadi konsumsi publik.
Kasus ini adalah panggilan sadar. Ia membunyikan lonceng bahwa di balik popularitas seorang penyanyi, selalu ada tangan-tangan sunyi yang mencipta.
Mereka bukan wajah layar kaca. Mereka bukan nama besar panggung. Tapi merekalah penyemai pertama dari suara yang kita rayakan.
Artikel Terkait
MAKAN SIANG YANG RUWET, Oleh: Riant Nugroho
Antara Penegakan Hukum dan Ancaman terhadap Kemerdekaan Pers, Oleh: Moehammad Gafar Yoedtadi
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK
KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP
'ARTIFICIAL INTELLIGENCE TAK MEMBUNUH PENULIS, TAPI MENGUBAHNYA', Oleh Denny JA
OPINI "Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat" Oleh: Budiawan, Host "Cangkrukan"
'ELON MUSK PUN SERUKAN PEMECATAN DONALD TRUMP', Oleh Denny JA