TITIKTEMU.CO-Bagi anak sekolah di pelosok, jembatan bukan sekadar beton, besi, atau kayu yang membentang di atas sungai. Kadang, jembatan adalah pembeda antara berangkat sekolah dengan aman atau harus mempertaruhkan nyawa setiap pagi. Dari persoalan sederhana tetapi serius inilah proyek Jembatan Garuda mendapat perhatian pemerintah.
Presiden Prabowo Subianto menunjuk TNI Angkatan Darat (TNI AD) untuk mengerjakan program tersebut. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah menilai TNI AD memiliki kombinasi kemampuan teknis dan jaringan kewilayahan yang sulit dipisahkan ketika proyek harus masuk ke daerah-daerah terpencil.
Plt Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Kurnia Ramadhana menjelaskan, satuan Zeni TNI AD memiliki kemampuan teknis untuk membangun jembatan. Di saat yang sama, struktur komando kewilayahan TNI menjangkau wilayah hingga tingkat desa.
Baca Juga: Tukin Kemenhan dan TNI Naik Jadi 90 Persen, Ada Alasan yang Tak Banyak Dibahas
Kombinasi tersebut menjadi penting karena lokasi Jembatan Garuda bukan hanya berada di kawasan perkotaan yang mudah dijangkau. Program ini memang diarahkan untuk wilayah terpencil maupun daerah yang terdampak bencana.
Program jembatan perintis itu sendiri lahir setelah Presiden Prabowo membentuk satuan tugas pada 28 November 2025. Salah satu pemicunya adalah laporan mengenai anak-anak sekolah di daerah terpencil yang harus menyeberangi sungai dengan kondisi berbahaya karena belum tersedia jembatan yang layak.
Satgas tersebut dipimpin Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Sejak awal, programnya memang tidak hanya bicara soal membangun infrastruktur, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat yang selama ini seperti dipisahkan oleh kondisi geografis.
Bukan kali pertama TNI AD mengerjakan pekerjaan semacam ini. Pemerintah menyebut pengalaman TNI dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dan berbagai operasi kemanusiaan menjadi salah satu pertimbangan.
Kemampuan mobilisasi personel dan peralatan juga dianggap menjadi keunggulan tersendiri. Ketika medan sulit dan lokasi proyek jauh dari pusat kota, persoalannya bukan cuma bagaimana membangun jembatan, tetapi bagaimana membawa orang, material, dan alat berat ke sana.
Skala proyek Jembatan Garuda pun tidak kecil. Pemerintah menargetkan pembangunan 2.838 titik jembatan di 38 provinsi. Prioritas diberikan kepada kabupaten dan kota dengan tingkat keterisolasian tinggi serta kebutuhan konektivitas yang mendesak.
Baca Juga: Mitra MBG Ramai Datangi Lodewyk, Kenapa Sudaryono Justru Tutup Pintu Ruang Kerjanya?
Hingga 29 Juli 2026, sebanyak 1.416 jembatan atau 49,9 persen dilaporkan telah selesai. Sementara 1.422 titik lainnya masih dalam proses pengerjaan.
Jenis jembatan yang dibangun juga beragam, terdiri dari 80 jembatan bailey, 524 jembatan armco, 459 jembatan beton, dan 353 jembatan perintis.
Artikel Terkait
Viral Banner 'Stop Penyimpangan' di SMAN 1 Solok Selatan, Siswa Sampaikan Aspirasi usai Dugaan Pelecehan Oknum Guru
Mahfud MD Soroti Penahanan Febrie Adriansyah Tanpa Rompi Pink dan Borgol, Bandingkan dengan Nadiem hingga Tom Lembong
Sadie Sink Akhirnya Buka Suara: Siapa Saja yang Tahu Rahasia Besarnya di Spider-Man?
Profil Bupati Pemalang Anom Widiyantoro usai OTT KPK, Diduga Terima Suap Proyek dan Jual Beli Jabatan
Mitra MBG Ramai Datangi Lodewyk, Kenapa Sudaryono Justru Tutup Pintu Ruang Kerjanya?
Transformasi BRIvolution Reignite Kian Ngebut, BRI Perkuat Kontribusi bagi Ekonomi Nasional dan Program Pemerintah
Tukin Kemenhan dan TNI Naik Jadi 90 Persen, Ada Alasan yang Tak Banyak Dibahas