TITIKTEMU.CO - Banjir bandang di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, tidak hanya menyisakan lumpur dan reruntuhan bangunan.
Ribuan gelondongan kayu berdiameter puluhan sentimeter hingga satu meter terdampar di perkampungan warga, dan sisa-sisa bangunan.
Fenomena ini menjadi tanda rusaknya hutan dan ambruknya daerah aliran sungai di Sumatera. Kayu-kayu yang hanyut dan kemudian terdampar seperti mengabarkan krisis ekologi yang parah.
Baca Juga: KLH Hentikan Operasi Empat Perusahaan di Batang Toru, Diduga Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera
Ketika Hutan Datang Menghantam Rumah
Di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, sebuah gelondongan kayu sebesar lingkaran pelukan manusia dewasa teronggok di tengah permukiman yang luluh lantak.
Warga tidak pernah membayangkan bahwa kayu yang jelas-jelas bekas tebangan manusia bisa terseret hingga menghancurkan rumah, musala, dan fasilitas umum.
Nurbaeti, warga setempat, masih tertegun mengingat pagi naas itu. Banjir di Garoga memang sering datang setiap musim hujan, tapi tidak pernah membawa amukan seperti kali ini.
“Biasanya hanya segini, sebetis. Tapi banjir kedua itu tiba-tiba menghantam semuanya,” tuturnya.
Dia sedang berjualan martabak di pasar kecamatan ketika air bah datang. Suami dan anak-anaknya berlari menuju jembatan penghubung Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah yang kini terputus.
Gelombang Kayu dari Hulu yang Gundul
Warha yang lain, Ida Rohana Simamora, menyaksikan pemandangan yang lebih mencengangkan. Ribuan kubik kayu meluncur seolah hulu gunung runtuh. Tak hanya kayu gelondongan, juga batang-batang sawit.
“Dari gunung itu… kayunya longsor dari lahan sawit,” ujarnya.
Artikel Terkait
Bupati Samosir Imbau Warga Tolak Bantuan dari Toba Pulp Lestari
Tanggap Bencana Sumut-Sumbar, BRI Salurkan Bantuan Untuk Percepat Pemulihan Warga yang Terdampak
Mengungkap Pemilik Allied Hill Limited: Sosok Joseph Oetomo di Balik Toba Pulp Lestari
Mahfud MD Kritik Keras Pengelolaan Lingkungan: Soroti Kolusi Perizinan Tambang hingga Kriminalisasi Aktivis
Hikayat Kopi di Tanah Gayo: Warisan Tradisi dan Ketekunan dari Ujung Barat Nusantara
Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Seperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang, Apa yang Terjadi?