TITIKTEMU.CO - Di balik deretan perusahaan bubur kertas di Tanah Air, nama Ignatius Ari Djoko Purnomo mencuat sebagai salah satu figur kunci.
Dia merupakan Komisaris Utama PT Toba Pulp Lestari sejak 2016 dengan salah satu tuganya mengawasi perusahaan yang sejak dulu identik dengan kontroversi lingkungan.
Dengan latar belakang pendidikan filsafat dan teologi, perjalanan karier Ignatius memang tidak biasa. Namun, hal itu justru mengantarkannya ke posisi strategis dengan remunerasi selangit.
Baca Juga: Siapa Pemilik PT Toba Pulp Lestari? Sejarah dan Kontroversi Produsen Pulp di Sumatera Utara
Pria kelahiran 1970 ini bukan sosok baru di dunia korporasi. Meraih gelar sarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, kemudian Magister Teologi di Melbourne College of Divinity.
Kini, jejak profesionalnya justru bergerak di bidang komunikasi, manajemen, dan korporasi multinasional.
Perjalanan Karier
Perjalanan karier Ignatius dimulai pada 2001 sebagai Associate di Maverick. Dua tahun berselang, dia bergabung dengan Indo Pacific dan menjabat sebagai manajer hingga 2006.
Setelah itu berlabuh di PT Sari Husada dan Danone Indonesia, juga sebagai manajer. Kariernya semakin melesat ketika menjabat Direktur di Edelman Indonesia periode 2010-2013.
Edelman sendiri merupakan sebuah firma komunikasi global yang mengelola reputasi perusahaan besar.
Selepas dari Edelman, Ignatius dipercaya sebagai General Manager di sebuah perusahaan di Jakarta, hingga akhirnya ditunjuk sebagai Komisaris Utama PT Toba Pulp Lestari (TPL) melalui RUPS Luar Biasa pada Desember 2016.
Baca Juga: PT IMIP Morowali Milik Siapa? Fakta Bandara dan Isu Legalitas Terbaru 2025
TPL: Perusahaan Kaya Sejarah, Penuh Kontroversi
PT Toba Pulp Lestari bukan nama asing dalam industri pulp dan rayon. Berdiri pada 1983 dengan nama PT Inti Indorayon Utama (INRU), perusahaan penuh dengan kontroversi.
Artikel Terkait
Ketika Komunikasi Terputus: Kisah Orang-Orang yang Menanti Kabar Keluarga di Tengah Bencana
Daftar Nomor Darurat Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera-Aceh
Kisah Rosita dan Hutan yang Tak Dijual: Cinta yang Menjaga Megamendung Tetap Hidup
Daendels dan Reformasi Hutan Jawa: Kisah Mas Galak Perangi Pembalakan Liar
Jejak Hutan di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi Gayo
Update BNPB, Bencana Sumatera: 914 Orang Meninggal, 389 Lainnya Masih Hilang
Patungan Beli Hutan: Ketika Negara Abai Pembalakan, Frustasi Menumpuk, dan Masyarakat yang Tak lagi Percaya