Baca Juga: Update BNPB, Bencana Sumatera: 914 Orang Meninggal, 389 Lainnya Masih Hilang
Bukan Sekadar Siklon: Bukti Gagalnya Mitigasi Bencana
Ketua Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri, membandingkan bencana ini dengan fenomena serupa di Thailand dan badai besar Seroja di Nusa Tenggara Timur.
Di dua peristiwa itu, lanjutnya, tidak ada tumpukan kayu raksasa yang hanyut, dan kemudian terdampar.
“Kerusakan yang terjadi di sana lebih banyak pada bangunan. Tidak ada gelondongan kayu sebesar ini,” ujarnya.
Indonesia, kata Avianto, gagal mencegah bencana karena tidak memiliki sistem mitigasi yang memadai di kawasan rawan longsor dan banjir.
Ketika hutan hilang, tidak ada yang menahan air. Dan ketika peringatan dini dari BMKG tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah, bencana menjadi tak terhindarkan.
Baca Juga: Air Mata di Nagatimbul: Kisah Seorang Anak Kehilangan Ayah dalam Longsor Tapanuli
Investigasi Dimulai Dugaan Penebangan Liar
Pemerintah kini memeriksa 12 perusahaan terkait dugaan penyalahgunaan fungsi hutan di kawasan Batang Toru dan sekitarnya.
Polri juga melakukan penyelidikan atas indikasi illegal logging yang dianggap menjadi pemicu banjir bandang.
Namun aktivis lingkungan menegaskan perbaikan tidak cukup hanya dengan penyelidikan. Negara perlu memperbaiki tata kelola hutan, mencabut izin yang bermasalah, dan mengembalikan fungsi ekologis hulu sungai.***
Artikel Terkait
Bupati Samosir Imbau Warga Tolak Bantuan dari Toba Pulp Lestari
Tanggap Bencana Sumut-Sumbar, BRI Salurkan Bantuan Untuk Percepat Pemulihan Warga yang Terdampak
Mengungkap Pemilik Allied Hill Limited: Sosok Joseph Oetomo di Balik Toba Pulp Lestari
Mahfud MD Kritik Keras Pengelolaan Lingkungan: Soroti Kolusi Perizinan Tambang hingga Kriminalisasi Aktivis
Hikayat Kopi di Tanah Gayo: Warisan Tradisi dan Ketekunan dari Ujung Barat Nusantara
Ketika Danau Singkarak Jadi Jernih Seperti Sungai Swiss Usai Banjir Bandang, Apa yang Terjadi?