Baca Juga: Tak Hanya Lezat, Ternyata Durian Memiliki Banyak Manfaat Bagi Kesehatan Tubuh
Coiling ini memerlukan coil yang dimasukkan pada gelembung aneurisma dan instrument untuk memasang coil. Coil merupakan kumparan berukuran 250 mikron dari serat logam berdiameter 50 mikron.
Teknologi coil telah matang untuk negara-negara maju. Negara-negara berkembang adalah pengguna produk. Meningkatnya kasus aneurisma intrakranial di negara berkembang perlu ditindaklanjuti dengan pengembangan produksi coil di negara berkembang.
Peneliti dari Teknik Mesin Universitas Tidar berkolaborasi dengan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Jurusan Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.
Baca Juga: PT Dtech Inovasi Indonesia Salatiga Penuhi 40 Persen Tingkat Komponen Dalam Negeri
Kolaborasi itu, dikutip TITIKTEMU.CO dari laman UNTIDAR, bertujuan untuk mengembangkan dan memproduksi coil di dalam negeri.
Tim peneliti ini berhasil mengidentifikasi proses, bahan dan instrument untuk coil dan pemasangan coil. Bahkan telah dihasilkan prototipe coil dengan material paduan Platinum-Tungsten oleh Dr. Suyitno, S.T., M.Sc (Dosen Program Studi S1 Teknik Mesin Universitas Tidar).
“Paduan Platinum-Tungsten merupakan material yang memenuhi persyaratan untuk Coil. Pengembangan material dilakukan di ITS Surabaya, sedangkan pengujian material dikerjakan Departemen Teknik Mesin SV-UGM,” jelas Suyitno.
“Prototipe coil yang dihasilkan telah dilakukan uji coba pemasangan pada model aneurisma di RS UNAIR. Prototipe coil berhasil dimasukkan pada model, selain itu prototipe ini menunjukkan sifat mampu dideteksi dengan X-rays. Sifat ini penting agar coil bisa dipantau secara langsung selama pemasangan dengan X-rays,” tambahnya.
Ia menguraikan riset selanjutnya adalah adalah proses perlakuan prototipe coil agar mampu bertindak sebagai material shape memory. Selain itu instrument untuk pemasangan coil juga menjadi agenda pengembangan selanjutnya.
“Keberhasilan mewujudkan prototipe coil ini memacu peneliti untuk bisa menyelesaiakan penelitian sampai ke tahap siap diproduksi. Meskipun masih banyak riset diperlukan, keberhasilan membuat prototipe ini membawa optimisme kepada tim peneliti,” imbuhnya.
Baca Juga: Desa Ponggok, Dulu Miskin Kini Berpendapatan Belasan Milyar Rupiah. Ini Asal Penghasilannya
Universitas Tidar sendiri berkomitmen dalam penelitian dan pengembangan alat-alat kesehatan dan permesinan. Komitmen itu diwujudkan dalam pembentukan kelompok riset (group research) MEDice (Medical and Mechanical Devices Innovation Centre). Kelompok riset ini berguna untuk mewadahi peneliti yang berkomitmen untuk mendukung pengembangan alat kesehatan dan permesinan di Indonesia. ***
Ikuti beragam berita terbaru, olahraga, lowongan pekerjaan dan informasi bermanfaat lainnya di TitikTemu.
Artikel Terkait
SNMPTN: Prodi Soshum Undip, Peminat Terbanyak Psikologi, Persaingan Tertinggi Ilmu Komunikasi
UMS Ambil Sumpah 40 Lulusan Program Profesi Insinyur
SNMPTN: 10 Prodi Saintek Undip Sepi Peminat. Tapi Kedokteran Gigi, Cama Harus Bersaing dengan 42 Orang
Inilah 10 Prodi Soshum Undip Sepi Peminat. Sastra Inggris Memiliki Tingkat Persaingan Paling Tinggi
SNMPTN 2022, Ini Daya Tampung 64 Prodi UI, Calon Mahasiswa Wajib Tahu. Prodi Ilmu Hukum Paling Banyak
SNMPTN: 20 Prodi Saintek Paling Tinggi Tingkat Persaingannya, Teknik Informatika Unpad Bandung Juara
LTMPT : SNMPTN 2022 Ditutup 28 Februari, Lakukan 7 Langkah Pendaftaran Segera
SNMPTN : Manajemen UNJ Jakarta, Prodi dengan Tingkat Persaingan Tertinggi untuk Klaster Soshum
Aturan Terbaru Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Tak Semuanya Boleh Dikumandangkan Keluar
SNMPTN 2022: IPB Sediakan 1.760 kursi mulai Prodi Pertanian hingga Ekonomi dan Bisnis
SNMPTN 2022 : Kuota Prodi Favorit di ITB di atas 100. Terbagi di Kampus Ganesha, Jatinangor dan Cirebon