Pada tahun 1921, ia memimpin kudeta militer yang hampir tanpa pertumpahan darah di Teheran, menggulingkan pemerintahan lama yang dianggap lemah dan korup.
Dari sana, Reza mulai menguasai kekuatan militer dan politik negara. Empat tahun kemudian, pada 1925, parlemen Iran mencopot Dinasti Qajar yang telah berkuasa sejak abad ke-18.
Reza kemudian dinobatkan sebagai raja dengan gelar Reza Shah, menandai lahirnya Dinasti Pahlavi.
Baca Juga: Profil Ayatollah Alireza Arafi: Anggota Dewan Kepemimpinan Sementara Iran Usai Wafatnya Ali Khamenei
Modernisasi Iran di Bawah Reza Shah
Sebagai raja baru, Reza Shah Pahlavi berambisi besar untuk memodernisasi Iran. Ia terinspirasi reformasi sekuler di Turki yang dilakukan Mustafa Kemal Atatürk.
Salah satu proyek paling ambisiusnya adalah pembangunan jalur Kereta Api Trans-Iran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Kaspia.
Proyek besar ini selesai pada tahun 1938 dan menjadi simbol modernisasi negara. Ia juga memperkuat militer, membangun infrastruktur, serta memperkenalkan sistem administrasi negara yang lebih modern.
Ia bahkan meminta dunia internasional untuk menyebut negaranya sebagai Iran, bukan lagi Persia.
Namun, modernisasi kerap dilakukan dengan tangan besi. Banyak kebijakan yang memicu kemarahan kelompok religius dan masyarakat tradisional.
Salah satu kebijakan paling kontroversial adalah pelarangan penggunaan hijab pada tahun 1936. Polisi bahkan memaksa perempuan melepas penutup kepala di tempat umum.
Bisa ditebak, kebijakan ini menimbulkan trauma sosial di masyarakat konservatif Iran.
Kejatuhan Reza Shah pada Perang Dunia II
Kekuasaan Reza Shah Pahlavi akhirnya runtuh pada masa Perang Dunia II. Meskipun Iran menyatakan netral, kedekatan pemerintahannya dengan Jerman Nazi membuat Inggris dan Uni Soviet khawatir.