Versi resmi Belanda menyebut Paku Buwono VI meninggal karena kecelakaan laut. Namun, fakta mencengangkan terungkap puluhan tahun kemudian.
Ketika jasadnya dipindahkan ke Imogiri pada 1957, ditemukan lubang seukuran peluru di tengkorak bagian dahi, tanda bahwa Sang Raja kemungkinan besar ditembak.
Baca Juga: Putra Sulung PB XIII KGPH Mangkubumi: Jangan Buru-buru Suksesi, Ini Masih Masa Berkabung
Dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional
Tujuh tahun setelah pemakamannya di Imogiri, Presiden Soekarno menetapkan Paku Buwono VI sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 294 tahun 1964.
Gelar itu menjadi pengakuan atas perjuangan seorang raja yang memilih berpihak pada bangsanya meski harus menanggung risiko dibuang dan dibunuh jauh dari keratonnya.
Sebelum ditangkap, dia pernah menulis pesan menyayat kepada rakyat:
“Wahai kawulaku, warga Nusantara. Aku rajamu, kurelakan pecahnya kepalaku dan tumpahnya darahku demi cita-cita kemerdekaanmu…”
Sebuah janji dan pengorbanan yang akhirnya dikenang bangsa hingga hari ini.***