TITIKTEMU.CO - Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan penuh kemuliaan bagi seluruh umat Islam. Kemuliaan bulan ini antara lain karena dibukanya pintu ampunan dan pahala dilipatgandakan.
Di bulan Ramadhan, doa-doa dikabulkan, berkah begitu melimpah, dan pintu surga dibuka lebar. Ramadhan bahkan dimaknai sebagai bulan dengan sejuta kemuliaan. Allah bahkan telah menjanjikan berkah dan kebahagiaan bagi setiap orang yang memuliakan bulan Ramadhan.
Salah satu kemuliaan bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar yang merupakan malam turunnya wahyu Alquran.
Baca Juga: Gus Baha: Lailatul Qadar Itu Bonus, Saleh Sedang, Saleh Ringan Semua Pasti Dapat
Umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT terutama pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan.
Menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), Lailatul Qadar itu perlu dicari jangan ditunggu.
Oleh karenanya, perlu persiapan untuk mencari Lailatul Qadar. “Di mana-mana yang namanya mencari itu ya ada persiapannya. Terkadang kita tidak persiapan, tapi merasa mencari. Kalau tidak ada persiapan, namanya menunggu. Bukan mencari,” kata Gus Baha, dikutip dari YouTube Najwa Shihab.
Baca Juga: Doa Harian Ramadhan Hari ke-21 Hingga Hari ke-30, Amalkan Biar Puasa Tambah Sempurna
Disabdakan Rasulullah SAW dalam hadis sahih agar kita mencari Lailatul Qadar. "Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Bulan Ramadan" (HR.Bukhari).
“Bagi seseorang yang meyakini malam Lailatul Qadar datang di atas tanggal 20, ya jangan menafikkan persiapan sejak 1 Ramadhan atau bahkan mulai Rajab,” terang Gus Baha.
Ulama asal Rembang itu, menekankan pentingnya menjaga perbuatan selama Ramadhan. “Rasulullah SAW sering mencontohkan agar jangan membicarakan orang lain, jangan melakukan perbuatan dosa saat Ramadhan. Akan sia-sia pahala itu karena diambil orang yang kita bicarakan,” ungkapnya.
Baca Juga: RAMADHAN : Lima Amalan yang Harus Ditingkatkan di 10 Hari Kedua Ramadhan untuk Mendapatkan Ampunan
Menurut Gus Baha, perlu perhitungan-perhitungan hukum yang matang. “Apa artinya Ramadhan jika memakan riba atau hal haram, kemudian membicarakan orang lain,” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA itu menambahkan, hukum-hukum tentang puasa, selain hukum dasar fikih yaitu tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, juga harus memakai hukum ilmu tasawuf.
Artikel Terkait
Sepuluh Perkara Penting yang Harus Diperhatikan di Bulan Puasa agar Ramadhan Produktif, Barokah dan Manfaat
RAMADHAN : Hukum Menggosok Gigi dengan Pasta bagi Orang Berpuasa, Batal atau Nggak?
RAMADHAN : Sedang Berpuasa, Atasi Gangguan Kenaikan Asam Lambung, Simak Penjelasan untuk Mengatasinya
RAMADHAN : Empat Hikmah di Balik Makan Sahur, Banyak Manfaatnya Lho…
RAMADHAN: Bolehkah Shalat Witir Langsung Tiga Rakaat Sekaligus? Simak Jawaban Ustadz M Ali Zainal Abidin
RAMADHAN: Bakda Sholat Witir Tiga Rakaat, Disunnahkan Membaca Doa ini!
RAMADHAN: Masjid Kauman Jogjakarta Sediakan Buka Puasa Istimewa di hari Kamis. Ini Menunya!
RAMADHAN: Lima Perkara yang Harus Dihindari Agar Puasa Terpelihara Mendapatkan Pahala