TITIKTEMU.CO, - Memasuki akhir Ramadhan atau 10 hari terakhir bulan yang penuh berkah ini, umat Islam memanfaatkan dengan memaksimalkan ibadah terbaik. Dari mulai shalat berjamaah, mengerjakan shalat sunah, tadarus Al-Qur'an, kegiatan sosial dengan membagikan takjil, sedekah dan lainnya.
Salah satu ibadah yang dianjurkan untuk menjemput Lailatul Qadar yakni i'tikaf atau berdiam diri.
Baca Juga: Ada Diskon Tarif Tol bagi yang Mudik dan Balik lebih awal. Catat Tanggal Berlakunya!
Dilansir dari NU Online, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid disertai dengan niat. Tujuan melaksanakan i’tikaf semata beribadah kepada Allah SWT, khususnya ibadah yang biasa dilakukan di masjid.
Di bulan Ramadan ada suatu malam di mana setiap amalan ibadah akan lebih baik dari pada ibadah selama seribu bulan yang disebut Lailatul Qadar.
Baca Juga: RAMADHAN : Lima Amalan yang Harus Ditingkatkan di 10 Hari Kedua Ramadhan untuk Mendapatkan Ampunan
I'tikaf sendiri memiliki banyak keutamaaan. I'tikaf dianjurkan dilakukan pada saat bulan Ramadan terutama di sepuluh malam terakhir.
Keutamaan dari i'tikaf sangat besar, terlebih menjadi bagian dari upaya meraih keutamaan malam seribu malam atau Lailatul Qadar.
Hukum i’tikaf adalah sunah, artinya i’tikaf dapat dilakukan setiap saat, tetapi khususnya di bulan Ramadan i’tikaf lebih dianjurkan.
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Artinya: Dari Ubay bin Ka'ab RA berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Pernah selama satu tahun beliau tidak beri’tikaf, lalu pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. (Hadis Hasan, riwayat Abu Dawud: 2107, Ibn Majah: 1760, dan Ahmad: 20317).