Baca Juga: Kisah Inspiratif Rif’an: Dari Nasi Rp4.000 hingga Menembus S3 di Belanda
Tahapan itu harus dilakukan berulang hingga mendapatkan data yang dibutuhkan. Penelitian bahkan sudah mencapai generasi kelima dalam proses perbaikan mutu genetik melalui persilangan dan seleksi.
Harapannya cukup besar: hasil riset tersebut bisa masuk tahap hilirisasi dan suatu hari dimanfaatkan masyarakat. Ayam lokal yang selama ini lebih banyak berada di pasar khusus diharapkan dapat ikut mendukung kebutuhan protein hewani Indonesia.
Jadi Peneliti Sekaligus Pengelola Tim
Tantangan Yesita ternyata tidak berhenti di kandang penelitian. Ia juga mengelola tim yang terdiri dari sekitar 70–80 mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai laboratorium.
Di satu sisi harus menyelesaikan disertasi sendiri, di sisi lain ia perlu mengatur pengambilan data terkait daging, telur, susu, hingga nutrisi. Belum lagi mencari pendanaan, membangun relasi, menghadapi trial and error, dan mengolah data penelitian yang jumlahnya tidak sedikit.
Di luar akademik, Yesita tetap aktif berorganisasi, kegiatan sosial, publikasi ilmiah, membuat karya yang menghasilkan hak cipta, hingga belajar karawitan.
Setelah meraih gelar doktor, cita-citanya justru belum berubah: menjadi akademisi atau dosen. Mimpi itu sudah tumbuh sejak SMA, ketika ia senang mengajak anak-anak di kampung halamannya di Klaten belajar bersama.
Bagi Yesita, lulus S3 UGM bukan garis finis. Gelar doktor mungkin sudah selesai, tetapi kebiasaan untuk terus belajar tampaknya belum punya tanggal wisuda.***
Artikel Terkait
Bukan Sekadar Anak Ariel NOAH: Kisah Inspiratif Alleia Anata, Si Ekstrovert Cerdas dengan Segudang Prestasi
Dari Jogja ke Swedia: Kisah Inspiratif Andhika, Alumni UGM yang Mengejar Mimpi hingga Menjadi Peneliti di Chalmers University
Saat Kampus Menjadi Rumah Inklusivitas: Wisuda UML 2025 dan Kisah Inspiratif Biarawati
Dari Korban PHK ke Raja Keripik! Kisah Inspiratif Alumnus UGM Bangun MAMOKA dari Nol
Kisah Inspiratif Rif’an: Dari Nasi Rp4.000 hingga Menembus S3 di Belanda
Dari SMSR Yogyakarta ke ITB: Kisah Inspiratif Mikail Fajar Dwicaksono Lolos SNBP 2026 Lewat Karya Seni
Kisah Inspiratif: Anak Tukang Tambal Ban Jadi Lulusan Terbaik IPB dengan IPK 3,87