Minat Emir pada global health muncul sejak aktif di kegiatan internasional semasa kuliah.
Ia sempat menjadi anggota tim debat bahasa Inggris UMY, mengikuti Model United Nations, hingga membantu sebagai asisten praktikum diplomasi.
Semua itu membuka wawasannya tentang bagaimana ilmu kedokteran bisa bersinggungan dengan isu global.
Titik balik penting terjadi pada 2015 saat ia menjadi relawan di American Corner UMY. Di sana ia memprakarsai program seperti Psychology Club dan Telinga Hati yang mengangkat isu destigmatisasi kesehatan mental dan HIV/AIDS.
Lewat inisiatif itu, Emir lolos program Young Southeast Asia Leaders Initiative (YSEALI) di Amerika Serikat. Selama fellowship di Partnership Health Center, Montana, ia ikut terjun ke komunitas terpencil untuk mendukung tes HIV dan berdiskusi dengan tim kesehatan mental setempat.
Membangun Proyek Sosial Sepulang dari Amerika
Sekembalinya ke Indonesia, Emir tak tinggal diam. Ia mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan Telinga Hati — program kolaborasi dengan American Corner UMY dan Komunitas Dokter Tanpa Stigma.
Kegiatannya meliputi pelatihan Active Listening untuk peer-counselor, seminar kesehatan mental, hingga sesi klarifikasi nilai bagi tenaga kesehatan di Yogyakarta.
Emir merasa semua ini menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis komunitas untuk mengurangi stigma.
Menurut Emir, pengalaman tersebut membuatnya sadar kalau untuk membawa proyek semacam ini ke level kebijakan, ia perlu menimba ilmu lebih dalam.
Itulah mengapa program Global Health Delivery di Harvard jadi pilihan yang paling pas.
Baca Juga: Anak Pedagang Nasi Goreng Asal Pandeglang Diterima di Harvard: Kisah Inspiratif Muhamad Yani
Menembus Harvard dengan LPDP PTUD
Emir tahu jalannya tidak mudah, apalagi sebagai alumni universitas swasta yang kerap dipandang sebelah mata jika dibanding kampus negeri besar. Namun ia tak gentar.
Artikel Terkait
Kisah Inspiratif Marlina Yunita: Dari Kampus UNDIP ke Karier Cemerlang di Perusahaan Multinasional Korea Selatan
Kisah Inspiratif: Lulus S2 UGM dengan IPK Sempurna dan Waktu Singkat
Kisah Inspiratif dr. Annisa Himmatul A.: Anak Buruh yang Raih IPK 3.96 di FK UNDIP
Kisah Inspiratif Dika Sukses Terapkan Tagar #KaburAjaDulu dapat Beasiswa ke Luar Negeri: Pergi untuk Kembali, Membangun Indonesia dari Desa
Kisah Inspiratif Pernah #KaburajaduluJanu Muhammad: Dari Beasiswa LPDP ke Inggris hingga Menjadi Pengusaha Sayur di Sleman
Dari Olimpiade Matematika ke Wisuda dengan IPK Sempurna: Kisah Inspiratif Orlando Ferrari di UGM
Anak Pedagang Nasi Goreng Asal Pandeglang Diterima di Harvard: Kisah Inspiratif Muhamad Yani
Kisah Inspiratif dr. Dara Ayu Panjaitan: Alumni MAN Asahan Menggapai Cita-cita Menjadi Dokter lewat Perjalanan Panjang
Kisah Inspiratif Muamar Leonardo, Lulusan Pascasarjana yang Kembali ke Desa dan Menata Harapan Lewat Agroforestri
Dari Dapur Hajatan ke Bangku ITB: Kisah Inspiratif Naufal, Anak Tukang Masak di Pamanukan