Gerakan ini sebagai bentuk pengingat bagi pemerintah yang dinilai telah menyimpang dari koridor etik dan demokrasi. Petisi inipun diikuti oleh petisi-petisi serupa oleh para akademisi di berbagai universitas di Indonesia.
“Tentu kita masih ingat di tanggal 12 Maret 2024, Kampus Menggugat. Para akademisi dan alumni UGM mendeklarasikan diri di Balairung UGM. Kemudian dalam peringatan Hari Kartini, 21 April 2024, kembali ada gerakan Kampus Menggugat. Pernyataan sikap di Balairung UGM untuk menyerukan penegakkan nilai-nilai etika dalam berbangsa dan bernegara”, terangnya.
Rimawan pantang menyerah, ia terus menyoroti permasalahan pelanggaran konstitusi yang tidak lagi hanya berada pada level undang-undang, tetapi langsung menyentuh konstitusi sebagai roh dalam bernegara.
Ia selalu mengingatkan bahwa konstitusi adalah landasan utama dan perubahan terhadapnya tidak boleh dilakukan secara serampangan hanya untuk memenuhi kepentingan segelintir pihak. “Jika sebagai akademisi kita diam saat negara dalam kondisi genting, jangan-jangan ketika negara diinvasi negara lain pun kita tidak akan bergerak,” jelasnya.
Ia menandaskan soal peran penting akademisi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertuang dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Amanah konstitusi yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa tidak berarti hanya membuat masyarakat pandai, tetapi juga berintegritas. “Akademisi boleh salah, tetapi harus tetap jujur.
Posisi UGM sebagai universitas perjuangan harus terus melakukan reposisi, mengkritik kebijakan yang salah, dan mendukung kebijakan yang benar,” ungkapnya.
Tak lelah pula ia selalu mengingatkan pentingnya reformasi yang berkelanjutan. Ia mengajak para akademisi untuk terus memaparkan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) dan menjadi garda terdepan dalam menjaga demokrasi. “Kritik adalah bagian dari demokrasi, dan akademisi memiliki tanggung jawab besar untuk menyuarakan kebenaran demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya.***
Artikel Terkait
Lulus S2 UGM Hanya 1 Tahun 4 Bulan dengan IPK 4.00, Ini Kisah Ilham Budi
Wah Ini, UGM Meneliti Kolagen dari Kulit Domba Garut Berpotensi Cegah Hipertensi
Pejuang Beasiswa Yang Gagal Raih Beasiswa, Yudi Sapta Malah Lulus S3 dengan IPK 4 di UGM
Membanggakan, Alat Radiografi Digital Hasil Inovasi Peneliti UGM Siap Diproduksi Massal
Top Punya, Mahasiswa UGM Berhasil Kelola 6 Usaha Bisnis