Perubahan waktu pada Jam Kiamat ini mencerminkan meningkatnya ancaman dari berbagai faktor, termasuk ketegangan nuklir yang diakibatkan oleh invasi Rusia ke Ukraina, ketegangan yang masih memanas di Timur Tengah dan Asia, serta penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam konteks militer.
Selain itu, krisis iklim yang semakin memburuk juga menjadi pendorong utama keputusan ini.
Ancaman Nuklir: Invasi Rusia ke Ukraina
Daniel Holz, Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin of the Atomic Scientists, menjelaskan bahwa meskipun faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tahun ini, seperti risiko nuklir, perubahan iklim, dan penyalahgunaan teknologi biologi, bukanlah hal baru, upaya untuk mengatasinya justru belum cukup efektif dan bahkan semakin memburuk.
Baca Juga: Tabel Pinjaman KUR Mandiri 2025 Rp25-35 Juta, Syarat dan Cara Pengajuan
Holz menegaskan bahwa ancaman nuklir tetap menjadi isu utama dalam keputusan ini.
"Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tahun ini—risiko nuklir, perubahan iklim, penyalahgunaan teknologi biologi, dan berbagai kemajuan teknologi lainnya seperti kecerdasan buatan—sebenarnya bukan hal baru. Namun, kita telah melihat bahwa upaya untuk mengatasinya masih belum cukup, bahkan dalam banyak kasus justru semakin memburuk," kata Holz, seperti yang dilansir oleh Reuters pada Rabu, 29 Januari 2025.
Ancaman nuklir terus menjadi perhatian utama, terutama terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 2022.
Baca Juga: Terjadi Deformasi, Menjadi Alasan Plengkung Gading Ditata Ulang
Konflik ini telah menimbulkan ketegangan besar di Eropa dan memicu kekhawatiran tentang kemungkinan penggunaan senjata nuklir.
"Perang di Ukraina terus menjadi sumber risiko nuklir yang besar. Konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang nuklir, baik karena kesalahan perhitungan maupun keputusan yang gegabah," tambah Holz.
Kekhawatiran ini semakin kuat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kebijakan baru pada November 2023 yang menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir.
Baca Juga: KIP Kuliah 2025: Buka Februari? Cek Jadwal, Syarat, dan Cara Daftarnya di Sini!
Doktrin baru ini memberi Putin lebih banyak alasan untuk menggunakan arsenal nuklir terbesar di dunia sebagai respons terhadap serangan konvensional dari Barat.
Selain itu, Rusia juga menolak untuk melanjutkan negosiasi perjanjian baru dengan Amerika Serikat yang akan menggantikan New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), yang akan berakhir pada 2026. Moskow malah meminta agar perjanjian semacam itu diperluas untuk mencakup negara-negara lain.
Artikel Terkait
Kumpulan Doa Malam Nuzulul Quran, Salah Satunya agar Memperoleh Syafaat Al Quran di Hari Kiamat
Taiwan Technical Mission 48 Tahun di Indonesia, Contoh Kerja Sama Pertanian Taiwan-Indonesia
Rumah Rp 129 Miliar Paris Hilton Musnah, Jadi Salah Satu Korban Kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat
Gencatan Senjata Tak Bermakna, Israel Tetap Serang Gaza Hingga 80 Orang Tewas
AS Mewacanakan Relokasi Pengungsi Gaza ke Indonesia,
Wacana Relokasi Pengungsi Gaza ke Indonesia, MUI: Itu Adalah Upaya Pengusiran Warga Palestina
Hanya Beberapa Jam Setelah Donald Trump Dilantik jadi Presiden, AS Putuskan Keluar dari Anggota WHO, Ini Alasannya
Resesi Seks! Angka Pernikahan dan Kelahiran Turun Drastis di Jepang
Indonesia Salah Satu Destinasi Favorit, Saat Warga Negara China Libur Panjang untuk Merayakan Imlek