Afganistan, Neo Taliban, dan Indonesia

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Sabtu, 21 Agustus 2021 | 18:05 WIB
Afghanistan (pic. dreamlines.com)
Afghanistan (pic. dreamlines.com)

TITIKTEMU.CO

Kredensial

Afganistan, Neo-Taliban, dan Indonesia

Oleh: Trias Kuncahyono (Wartawan Senior, Penulis Buku)

Sejarah berulang di Afganistan. Ibu kota Kabul, untuk kedua kalinya, jatuh ke tangan kelompok Taliban, hari Jumat (13/8) 2021. Pada 26 September 1996, kelompok opisisi bersenjata ini, merebut Kabul. Ketika itu, mereka menyingkirkan Presiden Burhanuddin Rabbani; sebelumnya mereka menggantung Presiden Mohammad Najibullah yang dicap sebagai bonekanya Uni Soviet.

Proses kejatuhan Kabul, beberapa hari lalu, seperti  mengulang yang terjadi pada tahun 1996. Sebelum merebut Kabul, kelompok fundamentalis ini menguasai Kandahar. Dari Kandahar mereka bergerak ke utara merebut Kabul. Sekarang pun demikian. Jatuhnya Kabul, memaksa Presiden Ashraf Ghani meninggalkan Afganistan mencari selamat. Dulu setelah merebut Kabul mereka memberi nama baru Afganistan yakni Emirat Islam Afganistan. Demikian pula sekarang.

Baca Juga: Percepatan Teknologi Hingga Tahun 2030, Akan Akibatkan Sekitar 2 Miliar Pegawai Kehilangan Pekerjaan

Secara sederhana sekurang-kurangnya ada empat hal yang “mempermudah” Taliban bisa merebut kembali Kabul.

Pertama, pemerintah Karzai dan kemudian juga Ashraf Ghani dianggap tidak efektif, tak mampu meningkatkan kualitas hidup, tak mampu menjamin keamanan bila tanpa bantuan AS dan NATO. Pemerintah Afganistan digerogoti korupsi akut. Menurut Corruption Perceptions Index 2020, Afganistan ada pada peringkat 165 dari 180 negara dengan skor 19.

Kedua, keputusan AS dan NATO penopang utama keamanan, menarik pasukan dari Afganistan. Pasukan AS secara penuh akan ditarik pada 11 September 2021.

Ketiga, digelarnya perundingan perdamaian dengan AS, menjadi semacam alasan bagi Taliban memandang diri mereka sendiri dan AS sebagai pemegang kekuasaan riil di Afganistan. Apalagi, Taliban selalu mempertanyakan legitimasi dan kredibilitas pemerintah Kabul yang dibentuk dan dikontrol kekuatan asing (Felix Kuehn, 2018). Dengan kata lain, Taliban tidak menganggap pemerintah Kabul.

Keempat, lahirnya “generasi baru” Taliban atau yang sering disebut “neo-Taliban” pada tahun 2002, yang berbeda dengan “Taliban lama” (1994-2001). Mereka melakukan adaptasi taktis dan strategis. Ideologi mereka pun mengalami evolusi.  Karena mereka berusaha untuk memoderasi kebijakannya dan menjadikan diri mereka sebagai gerakan kemerdekaan arus utama (Alia Brahimi; 2010).

Baca Juga: Menjaga Rajut Kebhinekaan Menggapai Hakikat Kemerdekaan

Pertanyaannya adalah apakah setelah menguasai Kabul, dan mendirikan pemerintahan baru, mereka akan menerapkan kebijakan berdasarkan agama dengan sangat keras, kaku, dan ketat serta bertekad menyebarkan ideologinya ke seluruh Timur Tengah dan kawasan lain?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X