Demikian juga tiga unsur yang menjadikan kehidupan (fisik, tenaga dan jiwa) telah tercakup di dalam filosofis sumbu imajiner tersebut (jogjaprov.go.id/)
Poros-poros tersebut didapat dari akulturasi faham Hindu dan Islam yang memiliki maksud jalan lurus menuju akhirat.
Gunung Merapi ditempatkan disebelah Utara atau bagian atas yang berarti disakralkan karena Gunung Merapi merupakan wilayah yang penting bagi wiayah-wilayah di bawahnya, sekaligus menjadi pemasok utama sumber daya alam bagi wilayah sekitarnya (Zaenal Abidin Eko Putro, 2010).
Baca Juga: Resep Nusantara: Empal Gentong Kuliner Khas Cirebon, Kuah Melimpah, Menambah Gairah untuk Nambah
II
Poros Imajiner, sumbu nyegara gunung itu, sekarang masih ada, sebagai kearifan lokal yang menjaga budaya apa adanya. Jalan Malioboro, misalnya, ada di poros imajiner itu. Pasar Beringharjo yang dibangun dalam konteks sumbu nyegara gunung, ada di sisi poros imajiner itu. Gedung Agung, juga demikian. Yang bisik-bisik sering ditanyakan adalah, apakah “Yogya Berhati Nyaman” itu masih ada?
Sebenarnya agak berat mempertanyakan hal itu. Sebab, ada yang mengartikan kata “Yogyakarta” diambil dari kata “ayodya” yang berarti “tidak ada perang” berarti ada “kedamaian” dan “karta” yang berarti “baik.”
Sejarawan Peter Carey mengatakan, toponimi Yogyakarta berasal dari kata “Ayodhya” dalam bahasa Sansekerta (bahasa Jawa baru : “Ngayodya”), yang mengacu pada ibu kota Rama dalam epos Ramayana.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Anggota KPI Pusat Dibuka, Simak Syarat Lengkap dan Tata Caranya
Gagasan ini diperkuat oleh buku Thomas Raffles yang sangat terkenal, History of Java (1871), yang menegaskan bahwa kota ini “diberi nama oleh pendirinya menurut nama Ayudhya, ibu kota Rama…” (krjogja.com, 2017).
Yogyakarta adalah nama pendek dari Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia juga dikenal sebagai nama kota Arjuna, pahlawan dalam Mahabharata (Woodward 1999:20). Meskipun ada yang membantah pendapat tersebut.
Tetapi, kata ”Yogya” sekarang memiliki arti baru yakni “sesuai, layak, pantas, pas”. Artinya layak dan pantas memberikan kedamaian kepada siapa saja, semua orang Yogya dan pendatang.
Tetapi, hasil survey Setara Institute tentang kota Indeks Kota Toleran Tahun 2021 yang kemarin dulu disiarkan, sungguh mengejutkan sekaligus memrihatinkan kalau dikaitkan dengan makna kata “Yogyakarta.”
Dari 94 kota di seluruh Indonesia yang disurvey, Yogyakarta ada di peringkat 22 dengan skor Indeks Kota Toleran (IKT) 5,483. Kota yang paling toleran adalah Singkawang dengan skor IKT 6,483. Kota yang paling rendah tingkat toleransinya adalah Depok dengan IKT 3,577.
Artikel Terkait
7 Wisata Kuliner Malam Jogja, Bikin Nagih!
7 Wisata Religi Kristiani & Goa Maria Paling Ngehits di Jogja dan Jawa Tengah
7 Tempat Makan di Jogja dengan View Sawah, Aduhai Banget!
Mau Liburan ke Jogja? 7 Penginapan Murah dan Nyaman Ini Bisa Jadi PiIihan
Ini Dia 7 Coworking Space di Jogja yang Asyik Buat Kerja dan Nugas
Liburan ke Jogja? Ini 7 Kuliner Jogja di Kawasan Malioboro yang Super Duper
Berburu 7 Kuliner Jogja di Kaliurang, Sisi Lain Kota Pelajar Jogja yang Layak Dicoba
Bikin Meleleh, Ini 7 Kedai Es Krim di Jogja dengan Sajian Menghanyutkan