opini

NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Selasa, 17 Mei 2022 | 12:43 WIB
Balon warna-warni. Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Baca Juga: Perayaan Waisak di Pelataran Candi Borobudur. Teladani Ajaran Sang Buddha untuk Selalu Menyebarkan Cinta

Topeng-topeng di Sewu Rai, Wonogiri. Ilustrasi (Dwi Soewanto)

Kedua

Kami ngomongin soal cara-cara, taktik dan strategi yang digunakan para calon (belum resmi) presiden. Ada sejumlah tokoh (juga yang menokohkan diri) politik dan pemerintahan yang mengincar kursi istana yang akan ditinggalkan Presiden Jokowi tahun 2024

Sangat menarik mengamati sepak terjang, polah tingkah, lagak lagu, gaya, tipu daya, bujuk rayu, dan juga sandiwara yang mereka mainkan. Ya namanya mau nebar simpati pada rakyak pemilik suara yang diharapan akan memilihnya, maka segala daya upaya dilakukan.

Maka berlakulah politik pencitraan. Pencitraan dilakukan melalui berbagai taktik; fanpage, twitter, blog, publikasi media online arus utama, dan media sosial serta cara-cara tradisional dengan melakukan berbagai kegiatan, safari menemui ketua partai politik dan juga ulama, pemimpin pesantren, para pemimpin agama, bikin pernyataan serta bagi-bagi duit entah dari mana asal duitnya.

Baca Juga: Pemain Remaja Liga Inggris Mengaku Secara Terbuka Dirinya Gay

Hal semacam itu terjadi di mana-mana. Artinya tidak hanya di Indonesia. Tetapi, yang terjadi di negeri ini boleh dikatakan unik. Misalnya, mencitrakan diri sebagai orang yang dijadikan korban dan melakukan kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain, playing victim. Dengan kata lain melempar kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain. Seseorang bersikap seolah-olah dirinya sebagai korban pihak lain; dizolimi. Jurus ini dilakukan untuk mencari simpati.

Kata orang pandai, jurus playing victim ini adalah jurus lama. Adalah ahli seni perang dari Tiongkok, Sun Tzu, yang disebut-sebut menyinggung soal playing victim ini.

Dalam strategi ke-34 sub bab Strategi Kalah, Sun Tzu menulis “Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh (masuk ke dalam jebakan, jadilah umpan)”. Kalau di sini, yang dilakukan adalah membiarkan dirinya dikritik, dikecam, dibuli habis-habisan oleh lawan-lawan politik atau orang-orang tidak suka.

Baca Juga: Newcastle 2-0 Arsenal: Harapan The Gunners Masuk Zona Champions Nyaris Pupus

Kadang juga dengan sengaja melalukan tindakan bodoh, tidak bermutu, kontroversial agar dikecam, dikritik, diomongin banyak orang, diejek, diolok-olok, digebuk pihak yang tidak suka. Semakin digebuk, semakin menjulang dia. Ibarat kata ini promosi gratis. Dan, hasilnya, elektabilitas naik tanpa perlu mengeluarkan biaya promosi.

Jurus seperti itu tidak selalu berakhir sesuai harapan, memang. Tapi, dinilai cukup ampuh untuk menggiring opini masyarakat. Permainan kata-kata dan taktik mulus memang terbukti banyak mengelabui dan digunakan dalam berbagai situasi.

Dasamuka simbol angkara murka (pagespeed)

Ketiga

Ada lagi yang main dengan negara lain, untuk meraih kepentingan dalam negeri atau malah menjadikan dirinya sebagai pion negara lain. Menurut laporan komunitas intelijen AS, Rusia berusaha membantu Donald Trump dalam pilpres di AS (2016)

Baca Juga: Cagliari 1-3 Inter, Nerazzurri Memaksakan Persaingan Perebutan Gelar Serie A Hingga Pertandingan Terakhir

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB