Sayangnya, hal semacam itu banyak terjadi di sekitar kita. Padahal, setiap orang juga tak ada yang bisa membebaskan diri dari berbuat salah dan dosa, dari kekurangan.
Keempat
Membaca cerita Romo Haruna tentang pengalamannya di angkot, saya ingat yang ditulis Karen Armstrong (2009): agama itu bukanlah sesuatu yang terutama menyangkut pikiran manusia, melainkan lebih pada perbuatan manusia. Iman tanpa perbuatan–tentu perbuatan baik–adalah omong kosong, mati.
Dengan kata lain, Armstrong ingin mengatakan, tidak ada gunanya menguasai teori-teori agama, hafal ayat-ayat kitab suci kalau tidak diwujudkan dalam tindakan nyata, bagi sesama manusia.Tahu bagaimana berbuat baik, tapi tidak memraktikkan ya tidak ada gunanya.
Bahkan, guru-guru bijak Upanishadik, kata Armstrong, mengatakan kebenaran agama hanya dapat diakses ketika kita siap untuk menyingkirkan egoisme, keserakahan, dan keasyikan pada diri sendiri yang berurat berakar dalam pikiran dan perilaku kita. Tetapi, juga merupakan sumber dari begitu banyak penderitaan kita.
Baca Juga: Syarat dan Rukun Zakat Fitrah yang Wajib Dipenuhi Sebelum Mengeluarkan Zakat Fitrah
Inilah salah satu persoalan besar di negeri kita. Padahal, kata Komaruddin, agama seharusnya menjadi peradaban manusia di segala bidang. Dengan kata lain, semakin beragama, semakin beradab, semakin berbudaya, semestinya. Dalam rumusan lain, Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan semakin beriman, semakin bersaudara.
Dan, dalam angkot dari Bogor ke Tangerang Selatan itu, ada belas kasih, welas asih, ada kepedulian, ada persaudaraan. Inilah kiranya makna berpuasa dan lebaran: mempertebal sikap belas kasih, welas asih, kepedulian, dan persaudaraan.
Selamat Lebaran
1 Syawal 1443 H
Sumber: https://triaskun.id/2022/04/30/lelaki-tua-dan-sandal-karet/