Entah seperti apa. Saya tidak tahu. Gurat-gurat perjuangan hidupnya seperti bisa dibaca di wajahnya yang sudah dimakan usia itu. Tapi bahwa pada suatu masa bapak itu adalah lelaki kuat perkasa, terlihat dari ototnya yang masih menonjol di lengan tangannya. “Bapak jualan sandal,?” tanya saya membongkar keheningan di tengah suara mesin mobil dan motor.
“Iya. Ini sandal karet ban,” jawabnya singkat sambil mengangkat kepalanya melihat saya.
“Ini bikinan sendiri, Pak?”
“Tidak. Saya ngambil di Leuwiliang, kampung saya. Di sana ada yang membuat,” jelasnya agak panjang. Leuwiliang adalah wilayah barat Kabupaten Bogor; dari pusat kota Bogor, kira-kira berjarak 35 km.
“Berapa sepasang, Pak?” tanya saya ingin tahu.
“Tiga puluh rebu,” jawabnya.
“Saya beli sepasang, Pak,” kata saya. Dan, saya lihat matanya mendadak berbinar, binar bahagia yang sebelumnya hilang entah di mana, begitu mendengar saya mau membeli sepasang. Wajahnya yang sebelumnya seperti tertutup kelambu, kini terlihat jelas. Ada ungkapan syukur di wajah tua itu.
Saya ambil sepasang dari tas yang dipakai untuk membawa sendal itu. Ada sekitar 10 pasang. Saya coba. Pas. Enak. Dan, segera saya serahkan uang Rp 50 ribu. Begitu menerima uang itu, wajahnya kembali suram. “Aduh, maaf, Pak….saya tidak punya kembalian,” katanya lirih.
Saya buru-buru mengatakan, “Tidak perlu kembalian, Pak. Semua untuk bapak.” Lelaki tua penjual sandal karet itu pun, tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, bukan hanya pada saya tetapi juga pada Tuhan. Bersyukur bukan hanya kebajikan terbesar, tetapi juga sumber dari semua yang lain.
Baca Juga: Kumpulan 50 Link Twibbon Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022 untuk Status Media Sosial
Lelaki tua itu menghayatinya. Bukankah, setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapak segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Dan, itu pantas disyukuri.
Angkot berhenti. Naik seorang perempuan yang sudah tidak muda lagi. Berjilbab. Sejak duduk dalam angkot, perempuan itu terus memandang lelaki tua penjual sandal itu. Dipandanginya lekat-lekat. Lalu, tiba-tiba perempuan itu memberikan empat buah masker ke lelaki tua penjual sandal. Karena ia tidak bermasker.
Tak lama kemudian, angkot berhenti. Naik seorang perempuan lebih muda dibanding perempuan pertama. Ia berhijab hitam. Berparas cantik. Bawaannya banyak, sepertinya baru dari belanja. Sejak duduk, ia juga memandangi lelaki tua penjual sandal itu. Meski dipandangi terus, lelaki tua itu diam saja. Bahkan menutup matanya seperti tidur, kepalanya disandarkan ke belakang.
Baca Juga: Tata Cara dan Niat Shalat Idul Fitri. Jangan Sampai Keliru