Memang, dibandingkan hasil survey sebelumnya (2020) peringkat Yogyakarta naik atau membaik. Pada survey 2020, Yogyakarta ada di peringkat 33 dengan skor IKT 5,233. Meski demikian, itu berarti ada persoalan besar dari Yogyakarta yang selama ini populer dengan sebutan “Kota Budaya” bahkan disebut sebagai “jangkar budaya Jawa” dalam hal bertoleransi.
Baca Juga: Dimsum Uma Yumcha, Kuliner Jogja Kekinian di Pasar Condronegaran Yogyakarta
Padahal, toleransi adalah bagian yang tak terpisahkan dalam budaya Jawa, yang hidup di Yogyakarta. Maka sahabat saya Zuli Qodir mengatakan, masyarakat Yogyakarta sebenarnya toleran; bibitnya memang sudah kuat. Secara kultural, masyarakat Yogyakarta adalah masyarakat terbuka. Masyarakat Jawa atau Yogyakarta adalah masyarakat kultur.
Yang biasa terjadi, segala bentuk sikap yang akan disampaikan pada orang lain, ditimbang-timbang terlebih dalu tingkat kepantasannya. Dari ini orang Jawa mengenal konsep tepa selira. KBBI mengartikan kata tepa selira sebagai dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi.
Baca Juga: Munculnya Sang Bintang Nike Ardilla di Blantika Musik Indonesia Tahun 90-an
Dengan demikian, konsep tepa selira lebih mengarah pada fungsi sosial. Yakni diterapkan bagi orang lain. Sikap yang dihasilkan oleh tindakan yang mengacu pada konsep tepa selira, terutama diterima dan dirasakan oleh orang lain.
Melalui konsep tepa selira inilah segala sesuatu yang ada pada orang lain dapat dirasakan seakan-akan sebagai sesuatu yang menjadi miliknya sendiri. Inilah yang sering disebut sebagai golden rule, “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda.”
III
Mungkin, sekarang, masyarakat Yogyakarta sudah berubah, sehingga menjadi kurang toleran atau mementingkan diri sendiri, kelompoknya sendiri.
Baca Juga: Piala Dunia 2022 Qatar: Inggris akan Bermain di Hari Pembukaan, 21 November 2022 Melawan Iran
Tetapi, semestinya watak, karakter, jiwa, rohnya, dan budaya Yogyakarta, tidak. Orang Yogya, masyarakat Yogya semestinya masih mengenal kata-kata bijak ini, ngono ya ngono neng aja ngono. Secara bebas dapat diartikan “Begitu ya begitu (mungkin kamu betul), tapi ya jangan begitu (apa tidak ada cara yang lebih baik?)”.
Mengapa ngono yo ngono, ning aja ngono itu penting dalam kehidupan masing-masing orang sehari-hari dan apalagi dalam bermasyarakat? Sebab, urip iku mung mampir ngombe, hidup itu sekadar berhenti sejenak untuk minum.
Itu berarti bahwa dunia ini sebagai realitas adalah tempat persinggahan sejenak. Karena hanya sejenak, maka yang sejenak itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kebaikan bersama.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1443 H Jatuh pada Minggu 3 April 2022
Maka orang harus selalu tepa selira, karena kita tidak hidup sendiri. Ada orang lain. Ada kelompok lain. Ada yang berbeda dengan kita. Kita ada di tengah masyarakat yang plural, yang majemuk, yang macam-macam dalam segala hal.