Atau mungkin seperti dikatakan oleh para hakim zaman Romawi dulu, yang selalu bertanya pada para penjahat yang diadili, “Siapa yang dapat keuntungan?”, “Cui bono?”
Mungkin—kenapa politik dituduh kotor—karena pertama-tama politik berurusan dengan mencari, merebut, dan mempertahankan kekuasaan. Dan, kekuasaan itu katanya kotor.
Untuk memperebutkan, apalagi mempertahankan, harus dilakukan dengan cara-cara keras, licik, intimidatif, tekanan, manipulatif, atau piawai dalam membujuk atau memeras.
Baca Juga: ANTARA ANKARA DAN PENAJAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Lawan harus dipukul tanpa ampun sampai tak berdaya.
Kawan yang dirasa terlalu kuat dan membahayakan harus disingkirkan, sebelum potensi ancaman itu menjadi nyata. Bahkan, kawan yang paling dekat pun harus dikhianati.
Maka ada ujar-ujaran, dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan.
Baca Juga: Pengukuran Lahan Selesai, Kapolda Jawa Tengah: Personel Kepolisian di Desa Wadas Sudah Ditarik
Bila demikian, maka politik memang kotor. Karena demi yang namanya kekuasaan, maka segala cara dilakukan; yang haram pun menjadi halal. Tak ada lagi martabat politik atau politik bermartabat.
Politik seperti berada di hutan rimba, yang akan mengikuti hukum siapa kuat akan menang, survival of the fittest (Herbert Spencer). Hal itu terjadi, karena menurut istilahnya Amy Chua (2018), “humans are tribal.”
Tetapi, seorang teman mengatakan: Bung, politik tidak dengan sendirinya kotor. Politik itu hanya kotor di tangan orang yang hati dan otaknya dipenuhi keserakahan, kelicikan, kepicikan, keirian, yang dilaksanakan hanya demi kekuasaan.
Baca Juga: Suara Para Ibu Rumah Tangga Dibalik Konflik Pembangunan Mega Proyek Bendungan Bener
Pada saat itulah politik menjadi kotor, jahat, dan penuh kekejaman.
Ketika itu, semuanya dipolitisasi. Bahkan, agama pun dipolitisasi. Yang tidak ada, diada-adakan. Yang sederhana, dirumit-rumitkan. Yang tenang-tenang saja, dibuat ramai, gaduh. Yang aman dan damai, dibuat rusuh. Yang rukun dibuat konflik. Yang terang benderang dibuat gelap gulita. Yang benar diganti kebohongan. Kalau bisa bikin kisruh mengapa membiarkan semua berjalan lancar. Kalau bisa memecah-belah, mengapa mendorong persatuan.
Dengan cara begitu, politik tak ada hubungannya dengan idealisme. Bahkan, pelan namun secara pasti dan leluasa, politik berjalan menyimpang dari idealisme, bonum commune.