opini

Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA." Oleh: Hamid Basyaib

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:58 WIB
Penghormatan dari alumni Hubungan Internasional yang menjadi anak didik Pak Yahya Muhaimin di Fisipol UGM (Kahigama)

Saya terdiam, tak ingin mendebatnya. Waktu itu saya simpulkan dengan cepat (mungkin terlalu cepat): ia tidak cukup menghayati serba-masalah yang membelit pendidikan kita — dari mulai kondisi gedung sekolah di daerah-daerah terpencil yang kebanyakan tidak memenuhi syarat, kurikulum yang berganti-ganti seiring pergantian menterinya, sampai lulusan perguruan tinggi yang tidak siap-pakai, penyediaan buku teks oleh pemerintah yang menjadi lahan bisnis para kroni penguasa dst.

Atau barangkali kami berbeda pemahaman dalam memaknai pendidikan sebagai sistem nasional.

Baca Juga: Film Yuni Gagal, Ini Daftar Lengkap Nominasi Oscar 2022

*

Dalam renungan belakangan, optimisme dan konfidennya itu saya pikir karena profesi abadinya sebagai guru.

Ia bukan hanya mengajar selama puluhan tahun di Fisipol UGM, dan pernah menjadi dekannya, tapi seminggu sekali tetap mengajar di SMP yang bernaung di bawah yayasan keluarganya di Bumiayu.

Pasti sekolahan itu satu-satunya yang punya guru SMP bergelar doktor ilmu politik lulusan Amerika.

Baca Juga: Sajian Makanan Khas Saat Perayaan Cap Go Meh yang Membawa Berkah. Salah Satunya Sangat Populer

Jika saya menemuinya di ruang dosen di UGM, kadang ia menerima telepon dan bicara tentang hal-hal yang sangat teknis tentang proses belajar-mengajar di sekolahan itu; bahkan juga tentang fasilitas sederhana di sana yang terganggu; mereka harus melaporkannya kepada Yahya karena ia ketua yayasan.

Begitulah, setiap Kamis sore ia pulang ke kampung halamannya untuk mengajar bahasa Inggris dan mengurus hal-hal lain di sekolah di sebuah kecamatan di Jawa Tengah tersebut.

Saya tidak tahu apakah kewajiban mengajarnya tetap ia amalkan setelah ia menjabat mendiknas. Ia kemudian memperluas yayasannya dengan mendirikan Universitas Peradaban yang kini cukup maju, dengan menekankan studi tentang isu-isu lokal.

Baca Juga: Nitilaku 2021 dan Semangat Berbagi para Alumni dalam Rangka Dies Natalis UGM ke 72

Optimismenya, juga keikhlasannya — misalnya berupa kesediaan mengajar di SMP kecil itu — tampaknya didorong oleh semangat dan pemahaman keagamaannya yang bersahaja.

Ia melihat dan menempatkan diri sebagai warga Muhammadiyah biasa, dengan segenap concern mashurnya dalam urusan pendidikan, dan menjalankan kewajiban-kewajiban standar seperti diajarkan oleh ajaran baku.

Ia tak pernah tertarik membahas isu-isu besar dalam agama, apalagi tentang seluk-beluk fikih yang bersumber dari literatur abad pertengahan.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB