II
Mbah Yono kerja multi-tasking secara profesional. Ia menjadi sopir. Ia menjadi pemandu wisata. Ia juga menjadi juru foto bagi wisatawan yang diantarkan mengunjungi tempat-tempat menarik dan bersejarah. “Bagus banget kalau foto di sini, Pak,” katanya di jalan menanjak yang berlatar-belang Gunung Merapi yang begitu perkasa dan elok.
Semuanya dilakukan dengan kesungguhan dan hati riang, serta semangat pelayanan tulus, membuat wisatawan yang diantarnya senang dan puas. Mbah Yono cerita apa adanya. Pengalaman hidupnya.
Perjuangannya untuk keluar dari cengkeraman pandemi Covid-19. Selama pandemi, praktis tidak ada wisatawan dan itu berarti tidak ada yang meminta jasanya untuk menyusuri jalur lava tour. Dan, tidak ada pemasukan.
Baca Juga: Kemenkes: Omicron di Indonesia Tambah 21 Kasus, Total Menjadi 68 Orang
Meski sepi wisatawan, Mbah Yono tidak putus asa. Ia tetap berusaha, bekerja apa saja biar daput tetap ngebul. Memang, Mbah Yono tidak memahami apa yang dikatakan orang-orang pinter bahwa kerja merupakan dasar untuk membangun hidup berkeluarga yang termasuk hak kodrati dan panggilan manusia. Tetapi, ia dengan penuh kesungguhan melakukannya.
Kerja adalah salah satu ciri yang membedakan manusia dari mahkluk ciptaan lainnya. Hanya manusialah yang mampu bekerja; hanya manusialah yang bekerja, dan serta-merta dengan kerjanya mengisi hidupnya di dunia.
Kerja itu baik bagi manusia, baik bagi kemanusiannya. Karena melalui kerja, manusia tidak hanya mengubah alam, menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, melainkan mencapai pemenuhan juga selaku manusia. Dan, memang dalam arti tertentu dengan bekerja manusia menjadi “lebih manusiawi.”
Baca Juga: Manchester United Mengakhiri Tahun 2021 dengan Kemenangan Atas Burnley di Liga Premier Inggris
III
Mbah Yono adalah gambaran wong cilik yang belum kehilangan dua keutamaan yang paling dasar: kejujuran dan keberanian. Di zaman sekarang ini, orang seperti Mbah Yono, sangat dibutuhkan. Ia bagaikan bintang kecil yang menggantung di langit yang gelap gulita.
Langit menjadi gelap-gulita karena begitu banyak wong gede (akhirnya menulari wong-wong cilik) yang sudah kehilangan kedua keutamaan paling mendasar itu.
Kejujuran telah dikalahkan kebohongan. Seorang penyair dan penulis esai-esai satir dari Irlandia, Jonathan Swift (1667-1745) mengatakan, kebohongan dapat menjelajah ke separuh dunia selagi kebenaran masih memakai sepatunya (Tom Phillips, 2019).
Baca Juga: Silahkan Mencoba, Sensasi Meluncur dengan Tali Gondola di Lembah Girpasang Klaten
Belakangan ini, kejujuran dalam banyak hal kalah dengan kebohongan. Kata Thomas Dekker (1572 – 1632) seorang penulis dari Inggris, kebenaran memiliki seorang ayah, tetapi kebohongan adalah anak haram dari seribu ayah, dan dilahirkan di segala tempat. Kebenaran itu lahir dari kejujuran.
Karena saking langkanya kejujuran, maka orang lupa arti kejujuran. Apa itu kejujuran? Kata Romo Franz Magnis-Suseno (2004), yang dimaksud dengan kejujuran adalah apakah yang dikatakan adalah apa yang diyakini sebagai memang benar, dan bukan apa yang menguntungkan, yang diharapkan, yang dituntut, yang sesuai sesuai dengan pendapat umum, yang sesuai dengan dogma-dogma para penguasa kehidupan ideologis masyarakat.
Baca Juga: Berburu 7 Kuliner Kaliurang, Sisi Lain Jogja yang Layak Dicoba