Itulah kekayaan khasanah budaya nusantara. Tiap daerah/suku punya mitosnya sendiri. Di beberapa daerah/suku, termasuk orang Sasak Lombok ada yang percaya khasiat pohon bidara-buak gol yang sama seperti daun kelor bagi orang jawa.
Pohon gol atau bidara ada yang meyakininya bisa mengusir makhluk halus. Peluntur ilmu. Sering digunakan untuk memandikan mayat. Saya juga menanam beberapa pohon. Tujuannya simple. Kalo ada yang cari tinggal diberikan.
Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun mitos itu kian memudar.
Dari berbagai literatur, kini kita paham betbagai kandungan nutrisi kelor melebihi kedelai misalnya. Digunakan untuk perempuan yang menyusui, namun tidak lancar air susunya.
Baca Juga: Ini Lho 7 Perbedaan MotoGP dan World Superbike, Jangan Salah Ya
Kelor mengandung vitamin B6, vitamin B2, vitamin C, vitamin A, zat besi, dan magnesium. Daun kelor juga mengandung protein nabati.
Satu mangkuk daun kelor (sekitar 21 gram) mengandung protein 2 gram. Berbagai riset tentang khasiat daun kelor kini terus berkembang.
Sebagai bahan makanan dan minuman, daun kelor berkhasiat bagus. Pasaran kelor di Jawa kini cukup bagus, menurut Mbak Yetty seorang teman di Surabaya yang mengaku sebagai agen yang ikut memasarkan produk Moringa Lombok di Jawa Timur.
Baca Juga: 7 Wisata Kuliner Khas Boyolali, Sekali Nyoba Jadi Ingin Kembali
Omzetnya lumayan juga untuk ukuran UMKM. Tapi sekarang ada UMKM di Jogja sebagai pesaing kelor Lombok.
Kelor kini jadi primadona. Apakah itu yang membuat Bung Nasrin tertarik berbisnis teh kelor Kidom dari awal ?
Ternyata tidak. Bisnis ini hanya kecelakaan saja katanya. Memang sejak tahun 1993 - 2016, Bung Nasrin usahanya membuat jamu. Ini tentu tak lepas dari perjalanan hidupnya yang setamat SMP ( usia 16 tahun ), Nasrin kecil sudah merantau ke Makassar. Bekerja sebagai cleaning service disebuah perusahaan jamu.
Tahun 2016, usaha jamunya mengalami kendala.
Baca Juga: Juara Dunia World Superbike 2021 akan Ditentukan di Sirkuit Mandalika Sebagai Seri Penutup
Januari 2016, Bung Nasrin bertemu mitra/buyer dari Jerman. Sanggup beli daun kelor kering setiap bulan 1 ton. Karena sudah miliki alat procesing jamu, Bung Nasrin menawarkan daun kelor untuk digiling menjadi bubuk. Si Buyer setuju.
Bulan Maret 2016 perjanjian disepakati. Namun ketika akan pengiriman ke Jerman, si buyer hilang kontak.
"Kecewa dan pusing tujuh keliling itu pasti. Tapi saya tidak mau putus asa. Saya berpikir dan mencoba lagi," cerita bung Nasrin.