opini

ORANG-ORANG KALAH Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Senin, 1 November 2021 | 05:06 WIB
Ilustrasi gambar Raja (Istimewa)

Raja yang selama ini mereka anggap sebagai sumber masalah negeri, telah menyerahkan mahkota dan tongkat kepemimpinan kepada mereka. Dan, bergabung dengan mereka, menjadi rakyat biasa.

Lantas, tanpa dikomando, mereka pergi meninggalkan istana. Raja pun berjalan bersama mereka. Raja bersama dengan seorang laki-laki pergi ke ladang. Raja berladang.

Baca Juga: Brighton Curi Poin dari Liverpool, Imbang 2-2

Ternyata, tanpa kepemimpinan seorang raja, Kerajaan Sadik tidak menjadi lebih baik, tidak menjadi lebih aman, tidak menjadi lebih tentram, tidak menjadi lebih makmur, tidak menjadi lebih maju.

Yang terjadi sebaliknya, kesengsaraan dan kemiskinan makin menjadi-jadi; keamanan makin rapuh, tertib hukum tidak ada lagi, banyak orang bertindak semaunya sendiri.

Mereka baru sadar bahwa dibutuhkan seorang raja untuk memimpin, mengatur, mengelola, dan membawa negara dan rakyatnya ke kemakmuran, ke situasi dan suasana yang lebih baik, aman dan tentram, meski membutuhkan waktu. Ketika kesadaran itu kembali, orang-orang di mana-mana mulai berteriak-teriak, “Kita harus memiliki seorang raja lagi…..!”

Baca Juga: Suksesi Adipati Mangkunegoro Belum Terlaksana, Persoalan Melanda. Ada Apa Sebenarnya?

Kemudian mereka, massa rakyat, mencari Raja. Dan, mereka menemukan Raja tengah membajak sawah dengan dua ekor kerbau.

Massa rakyat lalu memaksa Sang Raja untuk kembali ke istana. Mahkota dan tongkat diserahkan kembali. Mereka memohon agar Raja memerintah kembali.

Mereka percaya bahwa Raja akan membawa negara keluar dari kemiskinan, kesengsaraan, dari kegelapan menuju dunia terang.

“Sekarang perintahlah kami dengan kekuatan dan keadilan….” teriak massa rakyat.

Baca Juga: 7 Drakor Ini Tayang di Bulan November, dari yang Romantis Sampai Thriller

“Bukan aku, bukan aku. Kalian sendiri adalah raja. Ketika kalian  menganggap saya penguasa yang lemah dan salah, kalian sendiri lemah dan sesat. Dan sekarang negara menjadi sejahtera karena sesuai dengan kehendak kalian semua. Aku hanyalah alat kalian untuk mewujudkan kehendak kalian. Tidak ada seorang pemimpin yang mampu memerintah dengan baik, bila yang dipimpin tidak mau mengatur dirinya sendiri.”

Begitu sepotong cerita Kahlil Gibran tentang The King dalam buku The Wanderer, His Parables and His Sayings (1932). Kahlil Gibran seorang penulis kondang tingkat dunia dan seorang pelukis yang lahir pada 6 Januari 1883 dari sebuah keluarga Kristen Maronit di Bsharri, Lebanon, dan pada tahun 1895 pindah ke Amerika Serikat, meninggal April 10, 1931 karena sirosis hati.


Ilustrasi Gambar Demonstrasi (Istimewa)

II

Benar yang dikatakan Sang Raja, “tidak ada seorang pemimpin yang mampu memerintah dengan baik, bila yang dipimpin tidak mau mengatur dirinya sendiri.”

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB