opini

LOMBA MAKAN KERUPUK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku

Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:01 WIB
Lomba makan kerupuk (wikimedia.org)

Lomba balap karung ibu-ibu. Ilustrasi (commons.wikimedia)

Kata Yuval Noah Harrari (2018), semua itu adalah kerja identitas yang harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Ada tiga kerja besar dari sebuah bangsa dalam membangun: kerja ekonomi, kerja politik, dan kerja identitas. Kerja ekonomi dan kerja politik memiliki kejelasan area dan indikator, sedangkan kerja identitas tidak terlalu mudah dilihat.

Baca Juga: Diperingati Tiap Tanggal 14 Agustus, Pramuka Wajib Mengenal Tingkatan, Syarat dan Tanda Kecakapannya

Akibatnya adalah sering terabaikan. Atau bahkan diabaikan. Sebab, kerja identitas berada pada ruang abstrak, seperti budaya, pendidikan, estetis, dan metafisik. Salah satu wahana paling penting untuk memfasilitasi proses kerja identitas sejak dini ialah pendidikan.

Sistem pendidikan–hingga saat ini–dianggap sebagai cara paling efektif dalam membentuk identitas warga negara sesuai dilihat. Sayangnya, dunia pendidikan akhir-akhir ini menghadapi persoalan yang tidak boleh dianggap enteng. Misalnya, kasus SMA Negeri 1 di Banguntapan, Bantul, yang ternyata juga terjadi di banyak wilayah negeri ini, bahkan di Jakarta, ibu kota Republik ini.

Baca Juga: Horee! Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, Kembali Dibuka, Pengunjung Wajib Daftar via JAKI

***


Pada akhirnya, Menjadi Indonesia adalah sebuah gerakan moral yang mengajak siapa saja, pelajar, mahasiswa, pegawai, ulama, umaroh, tentara, polisi, politisi, pengusaha, buruh, lelaki-perempuan, dan siapa saja warga negara Indonesia untuk berbuat nyata untuk Indonesia. Tidak hanya nyata, tetapi bermanfaat bagi bangsa ini, bukan sebaliknya.

Itu penting. Sebab, sekarang ada kecenderungan bersikap dan berperilaku pragmatik serta keterpesonaan terhadap wacana ideologi-ideologi dunia, ideologi asing, budaya negara lain, perilaku bangsa lain, meniru bangsa atau menjadi bangsa lain. Hal seperti itu nyaris menenggelamkan bahkan menghilangkan jati diri kita.

Akibatnya adalah rasa keindonesiaan pun juga terasa memudar. Memudarnya rasa keindonesiaan tersebut bisa menjadi awal kepunahan kita sebagai bangsa. Bangsa yang merdeka.

Baca Juga: Bintang Manchester City ini Disebut Penuntut Sebagai Predator dengan Delapan Tuduhan Pemerkosaan

Orang merdeka adalah orang yang berani melawan ketakutan-ketakutan dalam melihat situasi kekinian. Tidak menyurutkan langkah untuk menyongsong masa depan.

Ibarat kata, sama halnya, tidak takut kalah dalam lomba makan kerupuk atau lomba apa pun. Karena, bukan kemenangan yang dicari, tapi persahabatan, persaudaraan, ucapan syukur sebagai sesama anak bangsa yang mempunyai tugas mulia untuk membela, memertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

… dengan demikian, kita semakin Menjadi Indonesia.***

 

Sumber: https://triaskredensialnews.com/kredensial/lomba-makan-kerupuk/

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB