opini

PERANG AI DI IRAN: KETIKA KEPUTUSAN MEMATIKAN DISERAHKAN KE MESIN

Selasa, 31 Maret 2026 | 17:00 WIB
Henry Sianipar, Dr.(Can) Henry Sianipar, M.I.Kom Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Usahid; Dosen Ilmu Komunikasi UBSI, Jakarta, Praktisi Penyiaran Liputan6 SCTV (Istimewa)

PERANG AI DI IRAN: KETIKA KEPUTUSAN MEMATIKAN DISERAHKAN KE MESIN

Oleh: Dr.(Can) Henry Sianipar, M.I.Kom,  Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Usahid; Dosen Ilmu Komunikasi UBSI, Jakarta, Praktisi Penyiaran Liputan6 SCTV

 

TITIKTEMU.CO - Saya masih ingat bagaimana verifikasi bekerja di ruang redaksi tempat saya bekerja hampir dua puluh tahun ini. Untuk memastikan satu nama dalam laporan konflik, kami bisa menghabiskan semalaman: menelepon sumber, mencocokkan arsip, menunggu konfirmasi dari dua pihak yang saling menyangkal. Satu nama bisa menghabiskan satu malam, karena dalam urusan kekerasan, kesalahan sekecil apa pun dapat mengubah orang yang tak bersalah menjadi sasaran. Dulu, pelan bukan kelemahan. Pelan adalah bentuk tanggung jawab.

Karena itu, setiap kali saya mengikuti perang Iran-Israel-AS, kegelisahan saya bukan hanya pada ledakan yang tampak di layar, tetapi pada kecepatan di belakangnya. Pada 28 Februari 2026, hampir semua media melaporkan Israel meluncurkan serangan pre-emptive terhadap Iran. Reuters menurunkan laporan seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan operasi itu telah direncanakan berbulan-bulan dan dikoordinasikan dengan Washington. NPR kemudian menyebut Pentagon menamai keterlibatan Amerikanya sebagai Operation Epic Fury. Sejak momen itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa menembakkan apa, melainkan: ketika perang bergerak secepat sistem komputasi, masih adakah ruang yang cukup bagi manusia untuk sungguh-sungguh memutuskan?

Baca Juga: Serangan Iran ke LNG Terbesar Dunia Bikin Geger: 17 Persen Pasokan Gas Global Terancam!

Kita memang harus berhati-hati agar tidak terjebak sensasionalisme. Tidak semua hal dalam perang Iran bisa dipastikan sebagai “perang yang sepenuhnya dijalankan AI”. Namun, ada cukup banyak bukti untuk mengatakan bahwa kita sedang memasuki bentuk peperangan yang semakin bergantung pada perangkat lunak, fusi data, otomasi analitis, dan rekomendasi mesin. Dan justru di wilayah abu-abu itulah persoalan etis paling serius lahir: bukan ketika mesin resmi mengambil alih keputusan akhir, tetapi ketika manusia secara bertahap kehilangan kapasitas praktis untuk membantah apa yang sudah disusun mesin.

Preseden yang paling kuat untuk memahami itu datang dari Gaza. Investigasi +972 Magazine dan laporan lanjutan The Guardian menyebut sistem AI seperti Lavender digunakan untuk menandai puluhan ribu orang sebagai target potensial, sementara sistem AI andalan lainnya, The Gospel digunakan untuk merekomendasikan bangunan dan struktur fisik sebagai sasaran. Dalam laporan itu, sejumlah sumber menggambarkan pengawasan manusia yang sangat minimal, bahkan dalam beberapa kasus hanya sekitar 20 detik per target. Reuters melaporkan Gedung Putih meneliti laporan tersebut, sementara militer Israel membantah AI dipakai untuk mengidentifikasi siapa yang teroris dan menegaskan analis tetap wajib melakukan pemeriksaan independen. Apa pun posisi kita atas bantahan itu, arah persoalannya sudah jelas: AI telah bergerak dari wilayah administratif ke wilayah yang makin dekat dengan penggunaan kekerasan. 

 Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: Iran Buka Jalur Terbatas, Siapa Saja yang Diizinkan Lewat?

Itulah sebabnya perang Iran harus dibaca bukan sebagai cerita yang terpisah dari Gaza, tetapi sebagai bab lanjutan dari transformasi yang sama. Pada 15 Maret 2026, NPR mewawancarai Lauren Kahn dari Georgetown University’s Center for Security and Emerging Technology. Ia menjelaskan bahwa AI kini dipakai across the board,  mulai dari pemrosesan bahasa alami, model visi komputer, fusi data dari berbagai sensor, dukungan keputusan, logistik, perawatan pesawat, hingga penguatan otonomi sistem seperti drone. Kalimat yang menurut saya paling penting adalah ketika ia menggambarkan pemakaian AI dari boardroom to battlefield. Itu artinya, AI tidak lagi hanya membantu analis di belakang meja; ia ikut membentuk bagaimana informasi dikumpulkan, dirangkum, diprioritaskan, lalu diantarkan ke tangan pengambil keputusan di lapangan. 

 Di sinilah letak perubahan besar itu. Banyak orang masih membayangkan bahaya AI perang sebagai skenario film, misalnya robot yang suatu hari menembak sendiri. Padahal bahaya yang lebih nyata justru lebih banal. Mesin tidak perlu menjadi algojo sepenuhnya untuk mengubah perang secara radikal. Cukup dengan menjadi sistem yang menyusun prioritas, memadatkan miliaran titik data menjadi daftar ancaman, lalu menyajikannya dalam tempo yang membuat manusia hanya sanggup mengangguk. Ketika skala data melampaui daya cerna manusia, “persetujuan manusia” dapat menyusut menjadi formalitas birokratis.

 Baca Juga: Tiba-Tiba Setan Siap Guncang Bioskop! Horor Komedi Segar Pasca Lebaran yang Bikin Ketawa & Deg-degan

Beberapa laporan media internasional yang saya telaah hingga pertengahan Maret ini,  memperlihatkan betapa dalamnya ketergantungan itu. Pada 20 Maret 2026, Reuters melaporkan bahwa sistem AI Maven milik Palantir akan dijadikan program of record resmi di Pentagon. Reuters menulis Maven menganalisis data medan perang dari satelit, drone, radar, sensor, dan laporan intelijen untuk membantu mengidentifikasi ancaman atau target potensial; sistem itu disebut sudah menjadi “primary AI operating system” militer AS, yang dalam tiga minggu perang telah melancarkan ribuan serangan terarah terhadap Iran. Palantir menegaskan manusia tetap bertanggung jawab memilih dan menyetujui target. Tetapi justru di sini paradoks modern itu semakin terang: secara formal manusia tetap ada, namun secara operasional, horizon keputusan sudah dibentuk terlebih dahulu oleh perangkat lunak. 

 Baca Juga: Aturan Baru Bikin Heboh! 8 Aplikasi Wajib Blokir Akun Anak di Bawah 16 Tahun, Siapa yang Sudah Patuh?

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB