Selat Hormuz Memanas! Iran Pasang Syarat Ketat, Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 26 Maret 2026 | 06:05 WIB
Foto ilustrasi Iran tetapkan syarat lintasi Selat Hormuz (Kolase tangkapan layar dari wikimedia)
Foto ilustrasi Iran tetapkan syarat lintasi Selat Hormuz (Kolase tangkapan layar dari wikimedia)

TITIKTEMU.CO - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas, kali ini berpusat di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.

Iran secara resmi menetapkan sejumlah syarat ketat bagi kapal yang ingin melintasi perairan strategis tersebut, memicu kekhawatiran global termasuk bagi Indonesia.

Pemerintah Iran melalui Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan aturan baru kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO).

Intinya, hanya kapal yang dianggap “tidak bermusuhan” yang diperbolehkan melintas. Namun, status ini tidak diberikan secara sembarangan.

Baca Juga: Moana Live-Action Rilis Trailer Perdana: Transformasi The Rock Jadi Maui Bikin Penasaran!

Iran menegaskan bahwa kapal yang ingin melewati Selat Hormuz tidak boleh terlibat, apalagi mendukung, tindakan agresi terhadap negaranya.

Selain itu, setiap kapal wajib mematuhi prosedur keselamatan yang ditetapkan serta berkoordinasi langsung dengan otoritas resmi Iran.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa akses ke salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia kini semakin dikontrol secara ketat.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai pintu utama distribusi minyak global, sehingga setiap perubahan kebijakan di wilayah ini memiliki dampak luas, termasuk pada harga energi dunia.

Baca Juga: 5+ Cara Agar Yamaha Mio Sporty Lebih Bertenaga dan Tarikan Enteng untuk Harian

Namun, ada poin yang lebih tegas lagi. Iran secara eksplisit menolak memberikan akses bagi kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel, serta pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam konflik.

Larangan ini mempertegas posisi politik Iran di tengah situasi yang masih penuh ketegangan.

Di sisi lain, dinamika komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat juga menjadi sorotan.

Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim adanya komunikasi produktif terkait upaya penghentian konflik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Sumber: Siaran Pers

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X