PERANG AI DI IRAN: KETIKA KEPUTUSAN MEMATIKAN DISERAHKAN KE MESIN

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 31 Maret 2026 | 17:00 WIB
Henry Sianipar, Dr.(Can) Henry Sianipar, M.I.Kom   Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Usahid;  Dosen Ilmu Komunikasi UBSI, Jakarta,  Praktisi Penyiaran Liputan6 SCTV    (Istimewa)
Henry Sianipar, Dr.(Can) Henry Sianipar, M.I.Kom Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Usahid; Dosen Ilmu Komunikasi UBSI, Jakarta, Praktisi Penyiaran Liputan6 SCTV (Istimewa)

Maka jika kita menengok pertengahan Maret ini, gambarannya semakin tajam. Israel menyatakan perang akan berlanjut sampai mereka dan Washington menilai saat yang tepat untuk berhenti.  Reuters melaporkan Israel mengklaim telah melemahkan program misil balistik dan nuklir Iran, namun pada saat yang sama serangan dari Iran masih terus berlangsung. Artinya, perang modern bukan pertandingan satu pukulan yang menentukan. Ia adalah pertarungan ekosistem. Gambarannya sensor melawan sensor, fusi data melawan saturasi drone, perangkat lunak penargetan melawan kapasitas produksi massal, dan narasi digital melawan narasi digital. 

 

Secara hukum, dunia juga belum berhasil mengejar cepatnya perubahan itu. Reuters pada 3 Maret melaporkan bahwa negara-negara memang sepakat hukum humaniter internasional tetap berlaku bagi sistem senjata otonom, tetapi standar internasional yang mengikat secara spesifik untuk sistem semacam ini nyaris belum ada. ICRC juga menegaskan IHL berlaku sambil menyerukan aturan baru yang mengikat untuk menghadapi tantangan kemanusiaan dan hukum dari autonomous weapon systems. Jadi problem kita bukan kekosongan mutlak hukum, melainkan kesenjangan antara laju inovasi perang dan laju norma internasional.

 

Pada akhirnya, yang paling saya khawatirkan bukanlah mesin yang “memberontak”, melainkan manusia yang terlalu cepat menyerahkan penilaiannya kepada mesin. Perang hari ini menunjukkan bahwa keputusan mematikan tidak harus sepenuhnya otomatis untuk menjadi problem moral. Cukup jika prosesnya dibuat sedemikian cepat, sedemikian padat data, dan sedemikian teknis, sehingga keberadaan manusia tinggal berfungsi sebagai tanda tangan di ujung alur kerja. Kita mungkin masih bisa mengatakan ada human in the loop. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah manusia itu masih memimpin, atau hanya hadir untuk memberi kesan bahwa semuanya masih manusiawi?

 

Saya kira, di situlah pertaruhan terbesar perang algoritmik. Bukan apakah AI akan suatu hari memutuskan sendiri. Melainkan apakah kita diam-diam sudah membiarkan diri kita hidup dalam sistem yang membuat manusia makin jarang berhenti untuk bertanya sebelum menyetujui kekerasan. Jika itu yang terjadi, maka perang yang paling berbahaya bukan perang yang dipersenjatai AI, melainkan perang yang membuat keraguan. Hal ini yang saya yakini adalah unsur paling manusiawi dalam keputusan hidup dan mati, tetapi kini terlihat seperti hambatan yang harus disingkirkan.

Dan ketika keraguan itu hilang, yang tersisa bukan lagi keputusan. Yang tersisa hanyalah eksekusi, menentukan siapa yang hidup dan yang mati.***

 

Catatan : Artikel ini ditulis pada pertengahan Maret 2026 ketika konflik masih berlangsung. Beberapa detail mungkin berkembang seiring situasi di lapangan.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X