Baca Juga: BRI Berhasil Salurkan KUR Rp114,28T kepada 2,5 juta UMKM, Ekonomi Rakyat Bangkit
Diella, sistem AI Albania, adalah algoritma yang hidup di pusat data. Ia dibekali kemampuan melacak pola curang, membaca ribuan kontrak, dan menolak intervensi emosional.
Setiap keputusan di-backup oleh tim auditor independen—terdiri dari pakar etika, aktivis anti-korupsi, dan akademisi.
Diella dirancang dengan model hybrid: machine learning dilatih pada 20 tahun data korupsi Albania.
Ia mengidentifikasi pola tender mencurigakan, sementara blockchain mencatat setiap keputusan secara tak bisa diubah (immutable).
Sistem ini terintegrasi dengan sensor loT di kantor pemerintah, memantau transaksi real-time.
Seperti Al Singapura yang mengurangi 40% kasus korupsi tahun 2023, Diella diprogram untuk belajar dari kegagalan manusia-bukan
menggantikannya, tetapi memperbaiki celah di mana nafsu kuasa bersarang.
Sistem ini mencatat log dengan blockchain agar publik bisa mengawasi, mencegah algoritma menjadi “kotak hitam” baru.
Namun kritik pun datang. Konstitusi Albania mengharuskan seorang menteri adalah manusia berusia di atas 18 tahun.
Oposisi menilai penunjukan ini hanya simbolis. Pertanyaan pun menggema: siapa yang mengawasi AI itu sendiri?
Baca Juga: Djamari Chaniago: Jenderal Kostrad yang Pernah Adili Prabowo, Kini Menko Polkam
Ada paradoks yang indah. Albania mengangkat AI justru karena manusia gagal menjaga amanahnya.
Seperti cermin, AI menghadapkan kita pada pertanyaan mendasar: apakah pada akhirnya kita menyerahkan moralitas kepada mesin?
Victor Hugo menulis: “Kepercayaan pada masa depan adalah rahasia kekuatan bangsa.” Albania seakan menjawabnya: masa depan itu kini dijaga algoritma, bukan lagi janji politisi.
Baca Juga: Estimasi Modal Usaha Laundry, Begini Caranya Agar Cepat Balik Modal