opini

'JIKA SEBUAH NADA DIBERIKAN HAK ' - Kasus Keenan Nasution vs Vidi Aldiano, dan Evolusi Royalti Lagu (2) Oleh Denny JA

Jumat, 13 Juni 2025 | 22:37 WIB
Ketika sebuah nada diberi hak - Keenan Vis Vidi, dan evolusi hak royalti (Denny JA)

Pencipta berhak menjaga makna dan integritas karyanya. Ia bisa menolak jika lagunya diubah makna, dijadikan jingle politik, atau dinyanyikan tanpa konteks yang sesuai.

Hak moral adalah suara hati yang dilindungi hukum. Karena seni, sejatinya, lahir dari batin. Dan batin berhak dihormati.


Baca Juga: Cara Daftar Antrian Sembako KJP Plus DKI Jakarta Juni 2025 dan Tips Pengambilan Tiket Online

Tahun 2000-an mengguncang sistem. Napster membuat musik gratis. Industri rekaman runtuh. Tapi dari reruntuhan itu lahir Spotify, YouTube, Apple Music. Sistem baru: micro-royalty—dibayar tiap kali lagu diputar, meski hanya beberapa sen.

Namun, pembagian keuntungan menimbulkan kegelisahan. Komposer kecil merasa diabaikan. Maka muncul gerakan: #PaySongwriters.

Sistem ini bekerja, tapi belum adil sepenuhnya. Yang kuat tetap dominan, yang lemah tetap harus bersuara lebih keras untuk didengar.

Hari ini, tantangan baru datang dari AI dan NFT.

Lagu kini bisa diciptakan mesin. Siapa penciptanya? Siapa pemilik haknya?

Di sisi lain, NFT membuka peluang baru: lagu bisa dijual langsung ke penggemar, dengan sistem kontrak cerdas yang membayar royalti otomatis tiap kali dijual ulang.

Sistem ini bisa transparan. Tapi juga bisa tak manusiawi, jika suara hati diabaikan.


Baca Juga: Jadwal Ganjil Genap dan Sistem One Way ke Puncak Bogor Jumat-Minggu 13, 14, 15 Juni 2025

Royalti adalah pengakuan—bahwa setiap nada punya hak.
Bahwa karya seni bukan hanya ekspresi, tapi juga kepemilikan.
Dan bahwa keindahan, bila tak dihargai secara adil, bisa terluka.

Di dunia yang bising oleh suara tanpa nama, keadilan bagi pencipta lagu bukan hanya soal hukum. Ia soal nurani.

Dari Bourget di Paris, Keenan di Jakarta, hingga Swift di Nashville, dunia terus belajar:
bahwa di balik suara, ada jiwa yang bekerja diam-diam.

Ia mungkin tak dikenal. Tapi suatu malam, ia pernah duduk sendiri—menulis lagu yang kini mengisi hidup kita semua.
Dan kita, pendengarnya, berutang rasa hormat.***

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB