Harvard, dengan kesadaran sejarah ini, tidak ingin Amerika mengulangi kegelapan yang sama. Ketika pemerintah Trump menggunakan retorika ‘keamanan nasional’ untuk mengontrol kampus, mereka sedang menyalakan sumbu yang pernah membakar buku-buku Qin Shi Huang dan daftar hitam Hollywood.
Perlawanan Harvard bukan sekadar soal kebijakan 2025, tetapi upaya memutus rantai sejarah yang selalu mencoba membungkam kebenaran demi kekuasaan.
Namun, di tengah ketegangan ini, para analis kebijakan publik dan ahli keamanan nasional mengingatkan bahwa tantangan sebenarnya terletak pada menemukan titik tengah antara keamanan negara dan kebebasan akademik.
Sejumlah lembaga think tank di Washington, seperti RAND Corporation dan Brookings Institution, menyarankan agar pemerintah dan universitas membangun mekanisme dialog yang transparan dan berbasis bukti.
Mereka menekankan bahwa keamanan nasional tidak harus bertentangan dengan kebebasan berpikir. Itu dapat dicapai melalui kerja sama yang saling menghormati hak asasi dan prinsip demokrasi.
Dengan demikian, solusi yang adil dan berkelanjutan dapat ditemukan tanpa mengorbankan nilai-nilai inti yang dijunjung oleh kedua belah pihak.
Baca Juga: Cara dan Rute Mudah ke Blok M Naik KRL, MRT, dan Transjakarta untuk HUT Jakarta 2025
Suara dari Dunia Seni
Di Festival Film Cannes 2025, Robert De Niro menerima penghargaan seumur hidup: Palme d’Or Kehormatan.
Tapi malam itu, ia tidak bicara soal film. Ia bicara soal dunia.
Dengan suara berat yang nyaris gemetar, De Niro berkata:
“Donald Trump bukan sekadar ancaman bagi politik. Ia adalah musuh akal sehat dan integritas moral. Jika kita diam, kita akan menyaksikan seni, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan dibakar secara perlahan.”
Ia menutup pidatonya dengan kata-kata yang menggetarkan panggung:
“Jangan pernah diam terhadap kekuasaan yang ingin membungkam jiwa manusia.”