'Perjalanan Penuh Berkat, Membawa, dan Membagi Berkat'
PAUS LEO XIV: PERTPAUS LEO XIV : PERTANDA ZAMAN (2): BUKAN TEOLOG, BUKAN DIPLOMAT
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis buku dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Vatikan
TITIKTEMU.CO - Dalam suatu pertemuan di KBRI Takhta Suci, Kardinal Suharyo menceritakan tentang berbagai topik yang dibicarakan dalam General Congregation, Kongregasi Umum.
Ini adalah pertemuan para kardinal–kardinal-elektor maupun bukan elektor, yang diselenggarakan sebelum konklaf di Aula Paulus VI, Vatikan.
Kongregasi Umum terakhir atau yang ke-12, berlangsung pada tanggal 6 Mei 2025, sehari sebelum konklaf dimulai, 7 Mei 2025.
Pertemuan terakhir ini dihadiri oleh 173 kardinal, termasuk 130 kardinal-elektor yang salah seorang di antaranya adalah Kardinal Ignatius Suharyo.
Dalam pertemuan itu ada 26 intervensi dari para kardinal yang sebagian besar adalah para teolog dan filsuf kondang. Intervensi-intervensi tersebut, misalnya, fokus pada reformasi Paus Fransiskus yang perlu dilanjutkan: undang-undang tentang pelecehan seksual, isu ekonomi, Kuria Roma, sinodalitas, upaya untuk perdamaian, dan kepedulian terhadap ciptaan.
Baca Juga: PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (1): WHITE SMOKE, BLACK POPE
Tema persekutuan ditekankan sebagai panggilan bagi Paus baru untuk menjadi Pontifex, pembangun jembatan, gembala, guru kemanusiaan, dan wajah Gereja Samaria.
Di masa perang, kekerasan, dan polarisasi yang mendalam sekarang ini, ada kebutuhan akan Paus yang penuh belas kasih, sinodalitas, dan harapan.
Yang dibutuhkan zaman sekarang adalah seorang paus yang menjadi gembala. Jadi, bukan seorang diplomat, bukan teolog, bukan pula birokrat melainkan seorang pastor, seorang gembala, yang tahu domba-dombanya; gembala yang berbau domba, mengutip rumusan Paus Fransiskus.
Baca Juga: Profil Paus Leo XIV: Paus Pertama dari Amerika Serikat yang Memimpin Gereja Katolik
Kata Kardinal Suharyo, bahkan, para kardinal mengusulkan, agar siapa pun yang nantinya terpilih sebagai paus, menggunakan nama atau Yohanes (mengacu pada Paus Santo Yohanes XXIII) atau Paus Fransiskus. Yang lebih penting lagi, siapa pun yang terpilih didukung oleh semua kardinal.