'TONGSENG SULTAN' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Jumat, 19 Mei 2023 | 08:47 WIB
Tongseng Sultan. Ilustrasi (Istimewa)
Tongseng Sultan. Ilustrasi (Istimewa)

Ada yang mengatakan, hal itu baik. Karena menjadi salah satu pertanda adanya kesadaran berpolitik di masyarakat. Apa itu politik dan apa itu kesadaran berpolitik. Mungkin begitu tanya banyak orang. Meskipun mereka sudah sangat akrab dengan istilah "dipolitisasi", misalnya, atau istilah lain yang juga diakrabi, "politisasi agama" atau "politik identitas."

Kata Aristoteles (384 — 322 SM) filsuf Yunani kuno, politik adalah usaha yang dilakukan warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, bonum commune. Pengertian itu disebut sebagai teori klasik.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Panjang Kawasan Slipi hingga Saat ini

Itu beda dengan yang dikatakan ilmuwan politik dari AS, Harold Dwight Lasswell (1902 — 1978). Kata Lasswell, secara ringkas politik diartikan sebagai Who Gets What, When, How . Siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.

Jadi, menurut teori klasik itu, politik digunakan oleh masyarakat untuk mencapai suatu kebaikan bersama, kepentingan bersama, kepentingan umum yang dianggap memiliki nilai moral yang lebih tinggi. Meskipun, kemudian pengertian tentang kepentingan umum menjadi bahan perdebatan.

Baca Juga: DONGENG 'MEMEDI SAWAH' oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Sementara Lasswell lebih "to the point". Kata dia, politik terutama berkaitan dengan kekuasaan dan pengaruh. Yang berpengaruh adalah mereka yang mendapatkan hasil maksimal dari apa yang bisa didapat.

Bagaimana mendapatkannya? Nah, ini pertanyaan lanjutannya. Bagaimana cara mendapatkan kekuasaan itu? Dan bagaimana dengan kekuasaan yang dimilikinya benar-benar berpengaruh kuat?

Baca Juga: INFO LOKER : Rekrutmen Bersama BUMN hingga 20 Mei 2023, Pelamar Hanya Boleh mendaftar satu lowongan

Apa pun definisinya, yang pasti politik di negeri ini, sulit diduga, seperti menduga bajaj yang tengah berjalan, mau belok kiri atau kanan atau lurus atau malah berhenti.

Tapi, mungkin demikianlah karakter politik itu: yang mungkin menjadi tidak mungkin, yang tidak mungkin bisa menjadi sangat tidak mungkin tapi bisa juga menjadi mungkin. Yang mudah dibikin susah dan yang susah dibikin mudah. Yang sederhana dibikin ruwet, yang ruwet bisa tambah ruwet dan juga bisa menjadi begitu sederhana.

Baca Juga: Booster Vaksin Kedua Digenjot Lagi, Kenapa ?

Misalnya, adakah yang pernah menduga bahwa dua sosok yang pada Pemilu 2019, bersaing dan bertarung begitu seru serta sengit (apalagi para pendukungnya, sehingga memunculkan istilah kampret dan cebong), dan hampir-hampir memecah-belah negeri ini, bisa bekerja sama, bergandengan tangan, kompak serasi, melaju seperahu? Begitulah yang terjadi. Itulah, mungkin, "mukjizat politik."

***

Penulis mengobrol dengan Mas Ninok Leksono
Penulis mengobrol dengan Mas Ninok Leksono (Atiek Nitiasmoro)
 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X