'PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPIONS EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA' Oleh: Denny JA

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 1 Juni 2025 | 13:54 WIB
PSG juara Liga Champions 2025 (Denny JA)
PSG juara Liga Champions 2025 (Denny JA)

Baca Juga: Film Horor Indonesia Juni 2025 Tayang di XXI, CGV, Cinepolis, Berani Nonton?

Sejak peluit pertama, PSG menunjukkan mereka datang bukan hanya untuk menang, tapi untuk menggores sejarah.

Menit ke-12, Achraf Hakimi membuka skor setelah umpan cemerlang dari Désiré Doué, pemain muda 19 tahun yang malam itu bermain dengan keberanian seorang maestro.

Delapan menit kemudian, Doué mencetak gol kedua PSG dengan sepakan keras yang mengenai Federico Dimarco dan mengecoh Yann Sommer. Allianz Arena menggema oleh keterkejutan dan tepuk tangan.

Baca Juga: 1 Juni Diperingati Hari Lahir Pancasila, Begini Sejarah Dipilihnya Burung Garuda Sebagai Lambang Negara

Babak kedua menjadi panggung kejatuhan Inter. Menit ke-63, Doué kembali mencetak gol, menerima umpan dari Vitinha, mengelabui bek terakhir, dan dengan satu sentuhan halus melewati Sommer.

Menit ke-73, Kvaratskhelia—si seniman dari Georgia—menari di dalam kotak penalti, menerima bola dari Dembélé, mengecoh dua bek, dan mencetak gol keempat PSG dari sudut sempit.

Dan akhirnya, pada menit ke-87, Mayulu menutup malam itu. Menerima bola dari Barcola, ia menggocek Alessandro Bastoni, berhadapan satu lawan satu dengan Sommer, dan dengan ketenangan seorang pujangga, melesakkan bola ke pojok gawang.

5-0. Sebuah kemenangan yang tak hanya mutlak, tapi juga mendalam. Sejarah ditulis dengan tinta emas dan irama yang baru.

Baca Juga: God Bless Akan Tampil di GBK, Panaskan Suasana Jelang Laga Timnas Indonesia vs China

Ironisnya, ketika PSG diperkuat oleh trio termasyhur Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappé, mereka justru tak pernah mengangkat trofi Liga Champions.

Padahal, itu adalah barisan dengan nilai pasar tertinggi yang pernah disatukan dalam satu klub.

Tapi justru di sanalah letak kesalahan mendasarnya. Ego besar. Tekanan sponsor. Dan tim yang tidak seimbang.

Messi dan Neymar datang ketika masa emas mereka mulai pudar. Mbappé, meski jenius, seringkali menjadi matahari tunggal yang menyilaukan orbit tim.

Alih-alih menyatu, mereka berdiri sendiri-sendiri. PSG kala itu menjadi pentas megah tanpa orkestra. Tiga suara merdu, tapi tak pernah bernyanyi dalam harmoni.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Sumber: Denny JA

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X