Ketegangan antara dua saudara ini terlihat jelas di ruang publik. Pada Jumat (21/11), keduanya diketahui menunaikan salat Jumat di Masjid Agung Solo.
Meski berada di masjid dan saf yang sama, Pakubuwono XIV versi Purbaya dan Pakubuwono XIV versi Mangkubumi tidak saling menyapa. Padahal posisi duduk mereka berdekatan.
Purbaya berada tepat di belakang imam, sementara Mangkubumi duduk di saf belakang sisi k9iri imam. Sikap dingin ini menunjukkan konflik keluarga tersebut belum menemukan jalan damai.
Upacara Jumenengan Dalem Nata Belum Digelar
Di tengah klaim kepemimpinan Mangkubumi, upacara adat Jumenengan Dalem Nata sebagai peneguhan resmi raja Keraton Surakarta belum juga dilaksanakan.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Koes Murtiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menegaskan bahwa Mangkubumi sudah sah menjadi raja.
Namun, pelaksanaan upacara masih menunggu pertimbangan tertentu, termasuk “tanda alam” sesuai paugeran keraton.
Selain itu, LDA juga melakukan koordinasi dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap status Keraton Surakarta yang telah menyatu dengan NKRI.
Dalam tradisi keraton, Jumenengan Dalem Nata wajib disertai pementasan tari sakral Bedhaya Ketawang di Sasana Sewaka. Hingga kini, prosesi tersebut belum dilaksanakan.
Baca Juga: Setelah Penobatan Paku Buwono XIV Purbaya sebagai Raja Baru, Bagaimana Masa Depan Keraton Surakarta?
Penggantian Gembok dan Polemik Museum Keraton
Situasi memanas pada Sabtu (13/12), ketika sejumlah pegawai Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X diminta keluar dari Museum Keraton Surakarta.
Kejadian ini terjadi bersamaan dengan aksi penggantian gembok di sejumlah pintu keraton oleh kubu Purbaya.
Juru bicara Pakubuwono XIV Purbaya, KPA Singonagoro, mengakui pihaknya mengganti gembok di sekitar 10 titik, termasuk Kori Kamandungan, Kasentanan, Sasana Handrawina, perpustakaan, hingga museum.
Langkah ini untuk memudahkan Babadan atau kabinet bentukan Purbaya dapat bekerja dengan optimal. Namun, dia membantah adanya pengusiran pegawai BPK.
Artikel Terkait
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Paku Buwono XIII Wafat, Ini Profil Putra Mahkota Gusti Purbaya, Calon Penerus Tahta Keraton Surakarta
Kenapa Raja Surakarta Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri?
Begini Duduk Perkara Klaim Tahta Keraton Surakarta antara Putra Mahkota dan Maha Menteri
Raja Kembar Keraton Surakarta, Dua Kubu Sama-sama Klaim Gelar Paku Buwono XIV
Begini Kronologi Kisruh Dua Raja di Keraton Surakarta dari Awal hingga Kini
Suksesi Keraton Solo dari Masa ke Masa: Konflik Tak Berujung dalam Dinasti Mataram Surakarta