Namun pascakebakaran, muncul gambaran baru bahwa selama lima tahun terakhir, Terra Drone ternyata menangani pemetaan detail konsesi perkebunan sawit di Sumatera.
Pereka memetakan batas wilayah konsesi, kondisi kesehatan tanaman, topografi lahan potensi pengembangan, area rawan banjir atau longsor, hingga analisis produktivitas kebun.
Bagi perusahaan, data seperti ini sangat berharga. Teknologi drone memungkinkan mereka mengelola lahan dengan presisi tinggi, meningkatkan hasil panen, dan memetakan potensi ekspansi.
Aktivitas pemetaan ini sepenuhnya legal, namun jarang mendapat sorotan. Publik nyaris tidak mengetahui bahwa perusahaan seperti Terra Drone memegang peran strategis dalam industri sawit Indonesia.
Baca Juga: BRI Beri Fasilitas Sindikasi Pembiayaan Rp5,2T Bukti Dukung Kemajuan Industri Sawit Nasional
Tuntutan Transparansi Mulai Meningkat
Tragedi Kemayoran menempatkan Terra Drone Indonesia dalam dua jalur evaluasi. Pertama, perusahaan harus menyelesaikan investigasi terkait keselamatan kerja.
Dalam soal ini, manajemen telah menyatakan kesiapannya untuk membantu penyelidikan dan melakukan peninjauan ulang terhadap protokol kerja.
Kedua, publik kini menuntut transparansi mengenai ruang lingkup proyek perusahaan. Spesukulasi Terra Drone berperan dalam pemetaan sawit skala raksasa membuka ruang diskusi baru.***
Artikel Terkait
Hujan Ekstrem, Siklon, dan Hutan Gundul di Balik Banjir Bandang Sumatera-Aceh
Kisah Rosita dan Hutan yang Tak Dijual: Cinta yang Menjaga Megamendung Tetap Hidup
Daendels dan Reformasi Hutan Jawa: Kisah Mas Galak Perangi Pembalakan Liar
Jejak Hutan di Balik Nikmatnya Secangkir Kopi Gayo
Patungan Beli Hutan: Ketika Negara Abai Pembalakan, Frustasi Menumpuk, dan Masyarakat yang Tak lagi Percaya