Patungan Beli Hutan: Ketika Negara Abai Pembalakan, Frustasi Menumpuk, dan Masyarakat yang Tak lagi Percaya

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Minggu, 7 Desember 2025 | 12:45 WIB
Patungan Beli Hutan: Ketika Negara Abai dengan Pembalakan, Frustasi Menumpuk, dan Masyarakat yang Tak lagi Percaya. (KSPPM)
Patungan Beli Hutan: Ketika Negara Abai dengan Pembalakan, Frustasi Menumpuk, dan Masyarakat yang Tak lagi Percaya. (KSPPM)

Termasuk pengajuan resmi ke sistem Online Single Submission (OSS). Ini jauh dari gagasan idealis patungan beli hutan.

Selain aspek hukum, ada persoalan filosofis. Jika hutan diperlakukan sebagai komoditas yang dihargai dengan uang, maka makna hutan sebagai ruang hidup dan ruang budaya bisa hilang.

“Kita khawatir hutan direduksi menjadi angka,” kata Igam.

Baca Juga: Air Mata di Nagatimbul: Kisah Seorang Anak Kehilangan Ayah dalam Longsor Tapanuli

Menguatkan Politik Ekologis dan Masyarakat Adat

Jika publik benar-benar ingin perubahan sistemik, Igam menawarkan strategi lain: mendorong gerakan politik hijau.

Patungan warga bisa diarahkan ke lembaga politik, atau partai berorientasi ekologis, yang mampu memperjuangkan kebijakan penyelamatan hutan di tingkat negara.

Selain itu, masyarakat adat harus ditempatkan sebagai pemegang hak kelola sah. Pengetahuan mereka telah terbukti menjaga hutan secara berkelanjutan selama ratusan tahun.

“Masyarakat adat adalah aktor penghadang korporasi,” kata Igam.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X