Berikut sebagian garis raja Mataram yang menurunkan PB XIII:
Panembahan Senapati (1586–1601)
Sultan Agung (1613–1645)
Amangkurat I (1646–1677)
Pakubuwana I (1704–1719)
Pakubuwana II (1726–1749)
Pakubuwana III (1749–1788)
Hingga akhirnya, PB XIII (2004–2025).
Baca Juga: Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara
Konflik Suksesi dan Rekonsiliasi
Perjalanan PB XIII menuju takhta tidaklah mudah. Setelah PB XII wafat, tidak ada penunjukan resmi penerus takhta karena sang raja tidak memiliki permaisuri yang sah.
Dari enam selir, lahir 15 putra, termasuk KGPH Hangabehi (PB XIII) dan KGPH Tedjowulan. Keduanya sempat mengklaim gelar Pakubuwana XIII, sehingga Keraton Solo sempat memiliki “dua matahari”.
Hangabehi dinobatkan lebih dahulu oleh Forum Komunikasi Putra-Putri (FKPP) PB XII pada 10 Juli 2004 dan resmi dinobatkan sebagai PB XIII pada 10 September 2004. Sementara Tedjowulan dinobatkan pada 31 Agustus 2004.
Konflik berlangsung hingga tahun 2012 sebelum akhirnya kedua pihak berdamai. Dalam rekonsiliasi, Tedjowulan mengakui Hangabehi sebagai PB XIII yang sah.
Selanjutnya Tedjowulan diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung (KGPHPA), dan diangkat sebagai Mahapatih Keraton Solo.
Artikel Terkait
Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri Rabu 5 November, Sebelumnya Dikirab Menuju Loji Gandrung
Mengenal Makam Imogiri, Peristirahatan Terakhir Raja-raja Mataram Islam Sejak Sultan Agung
Paku Buwono XIII Wafat, Ini Profil Putra Mahkota Gusti Purbaya, Calon Penerus Tahta Keraton Surakarta
Paku Buwono XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Hentikan Suara Gamelan hingga Pemakaman Selesai
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta
PB XIII Wafat, Siapa Calon Raja Berikutnya?
Prosesi Pemakaman PB XIII: Kirab Agung dan Tradisi Adat, Ini Jadwalnya