BGN menegaskan, peningkatan kuota pelayanan tak boleh mengorbankan kualitas gizi.
“Kami ingin agar setiap porsi tetap memenuhi standar nutrisi, bukan sekadar memenuhi target jumlah,” tambah Nanik.
Melalui pengawasan ketat, BGN berharap setiap dapur SPPG dapat menjaga mutu bahan baku, higienitas, serta efisiensi waktu penyajian.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan bagian dari komitmen nasional untuk memperbaiki status gizi anak-anak sekolah dan kelompok rentan di Indonesia.
Dengan aturan baru ini, pemerintah tidak hanya menambah porsi makanan, tetapi juga memastikan bahwa setiap suapan yang diterima masyarakat benar-benar bergizi, aman, dan bermakna.***
Artikel Terkait
Quiet Quitting di Tempat Kerja: Strategi Bertahan Cerdas atau Tanda Diam-Diam Menyerah?
Setya Novanto Kembali Disorot: Bebas Bersyaratnya Digugat Publik
Atap Lapangan Padel Ambruk di Meruya: Cuaca Ekstrem atau Konstruksi Bermasalah?
Pajak Bukan untuk Menyiksa: Strategi Purbaya Menunggu Ekonomi Tumbuh Sebelum Menarik Lebih Banyak
Antara Lensa dan Privasi: Ketika Foto Jogging di Jalan Bisa Jadi Komoditas Digital
Atap Asrama Ponpes Situbondo Ambruk: 19 Santriwati Jadi Korban, 1 Meninggal Dunia, Diduga Akibat Cuaca Ekstrem
Penembak Pengacara di Tanah Abang Ditangkap! Motif Dendam, Teriakan Tangis Warnai Penangkapan Dramatis
Asuransi Syariah di Ujung Tantangan: Antara Bertahan, Merger, dan Mencari Napas Baru di Tengah Regulasi Ketat
Bahlil sidak SPBU di Malang pastikan BBM sesuai standar, pemerintah siap beri sanksi tegas.
Trump dan Xi Bertemu di Busan: Isyarat Damai di Tengah Perang Tarif yang Membakar Dunia