“Kepercayaan orang tua telah dikhianati. Rumah kedua anak-anak berubah menjadi tempat penuh ketakutan,” ujarnya.
Saatnya Melindungi Santri, Bukan Melindungi Citra
Perdebatan soal "isu dilebih-lebihkan" sejatinya mengaburkan inti masalah.
Publik tidak sedang menyerang pesantren sebagai lembaga pendidikan, tetapi menuntut keadilan bagi korban dan sistem perlindungan yang lebih kuat.
Jika kekerasan seksual dianggap hanya sebagai noise media, siapa yang akan membela para korban yang tak berani bersuara?
Sudah saatnya narasi berubah: bukan menutup luka dengan opini, tetapi menyembuhkannya dengan keberanian menghadapi fakta.
Karena sesungguhnya, melindungi pesantren berarti juga melindungi martabat santri yang belajar di dalamnya.***
Artikel Terkait
Biaya Haji 2026 Turun Tipis: Kelegaan atau Sekadar Formalitas Angka?
Soeharto Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Mahfud MD: Layak Secara Hukum, Sensitif Secara Sosial
Perang Balpres: Sikap Tegas Pemerintah Bongkar Bisnis Ilegal di Balik Thrifting Murah
Di Balik Gaya Bicara Penuh Ledakan Purbaya, Strategi Komunikasi Politik atau Bumerang Publik?
Letjen (Purn) Glenny Kairupan: Dari Kokpit Helikopter ke Kursi Dirut Garuda Indonesia
DPR Desak Pemerintah Tindak Tambang Emas Ilegal Dekat Sirkuit Mandalika, Produksi Capai 3 Kg per Hari
PLN Beri Diskon Tambah Daya Listrik 50 Persen dalam Program Spesial HLN ke-80, Berlaku hingga 30 Oktober 2025
Mengenal Gaya Hidup Homestead: Tren Baru Hidup Mandiri dan Kembali ke Alam
Banjir dan Longsor Terjang Sukabumi, 1.800 Warga Terdampak: BPBD Sebut Salah Satu yang Terbesar Tahun Ini
Apa Itu Slow Living? Intip Makna, Asal Usul, Manfaat, dan Cara Memulai Hidup Sadar di Tengah Dunia yang Serba Cepat