Mohammad Yamin: Sosok Visioner di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Senin, 27 Oktober 2025 | 22:07 WIB
Mohammad Yamin: Sosok Visioner di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda. (Lemendikbud.go.id)
Mohammad Yamin: Sosok Visioner di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda. (Lemendikbud.go.id)

TITIKTEMU.CO - Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai simbol persatuan nasional.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik lahirnya ikrar bersejarah itu berdiri sosok cerdas dan visioner bernama Mohammad Yamin, seorang sastrawan, politikus, sekaligus pejuang kemerdekaan.

Sosok itulah  yang menyalakan semangat kebangsaan dengan tiga kalimat sakti: Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.

Baca Juga: 11 LINK Twibbon Hari Sumpah Pemuda 2025: Rayakan Semangat Persatuan Lewat Desain Keren dan Caption Inspiratif

Pemuda dari Sumatera 

Mohammad Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 2 Agustus 1903. Sejak kecil, dia dikenal cerdas dan gemar membaca.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, lalu melanjutkan ke AMS (Algemeene Middelbare School) di Solo, tempat minatnya pada sastra dan sejarah mulai berkembang.

Ketertarikan pada dunia bahasa dan kebudayaan membentuk pandangan Yamin tentang pentingnya persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Setelah menyelesaikan AMS, dia menempuh pendidikan hukum di Rechtshoogeschool te Batavia (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan meraih gelar Master in de Rechten pada 1932.

Pendidikan inilah yang memperkuat kapasitas intelektualnya sebagai pemikir hukum dan kebangsaan yang progresif.

Baca Juga: 25+ Ucapan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025 yang Inspiratif, Penuh Semangat, dan Cocok untuk Caption Media Sosial

Dari Jong Sumatranen Bond ke Kongres Pemuda

Saat muda, Mohammad Yamin aktif di organisasi Jong Sumatranen Bond, wadah pemuda asal Sumatera yang memperjuangkan cita-cita kebangsaan.

Di organisasi ini, Yamin mulai dikenal karena ide-idenya tentang pentingnya bahasa dan budaya sebagai perekat bangsa. Pemikiran itu mengantarnya berperan penting dalam Kongres Pemuda I tahun 1926.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X