Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Senin, 27 Oktober 2025 | 16:49 WIB
Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi. (Instagram @mfaies)
Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi. (Instagram @mfaies)

TITIKTEMU.CO - Di tengah kabut dingin pagi Wonosobo, aroma roti bakar, mentega dan gula pasir yang terbakar di atas arang jadi penanda hari baru dimulai.

Dari sebuah sudut sederhana di depan Pasar Induk, roti bakar klasik buatan Suradi telah menjadi ikon sarapan warga kota pegunungan ini selama puluhan tahun.

Pagi di Wonosobo selalu punya pesonanya sendiri. Udara sejuk, kabut yang menari pelan, dan deru aktivitas pasar yang mulai menggeliat menjadi latar sempurna bagi secangkir kopi dan sepotong roti bakar hangat.

Baca Juga: Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup   

Di tengah suasana itu, ada satu nama yang tak pernah lekang oleh waktu, Suradi, penjual roti bakar jadul yang sudah setia berjualan sejak lebih dari dua dekade lalu.

Lapak Suradi berada di depan Plaza Wonosobo, tepat di Jalan Ahmad Yani, seberang Pasar Induk. Tak ada papan nama besar, hanya meja kayu, kipas bambu, dan anglo arang yang terus menyala sejak pukul empat dini hari.

Meski sederhana, aroma khas mentega dan roti panggang yang keluar dari sana seolah jadi magnet bagi siapa pun yang melintas, atau bahkan sengaja dating dari kota yang jauh.

Baca Juga: Kembali ke Akar: Ketika Urban Farming Jadi Jalan Hidup Mandiri di Tengah Krisis Ekonomi

Sarapan Sederhana yang Bikin Antre

Setiap pagi, antrean pembeli selalu memenuhi area kecil di depan toko sepatu yang belum buka. Ada yang berdiri menunggu giliran, ada pula yang duduk lesehan di trotoar dengan secangkir kopi panas.

Menu andalan Suradi hanyalah roti bakar mentega gula pasir, dibakar langsung di atas arang. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya istimewa.

Harga satu tangkup roti hanya Rp3.500, sedangkan segelas kopi susu atau susu hangat dibanderol Rp5.000. harga yang murah untuk sebuah sarapan yang nikmat di Wonosobo yang dingin.

“Dulu pembeli saya banyak dari pedagang pasar atau orang yang baru pulang dari luar kota. Sekarang malah banyak anak muda nongkrong pagi-pagi,” kata Suradi.

Baca Juga: Sustainable Living: Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Sekadar Gaya Sosial Media?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X