Soft Life vs Realita Hidup: Impian Hidup Tenang di Tengah Harga Melonjak, Masih Masuk Akal?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 27 Oktober 2025 | 18:05 WIB
Ilustrasi soft life vs Realita Ekonomi  (Kolase dari akun pinterest @viral_rang dan @soft_and_cuddly_dream_pets)
Ilustrasi soft life vs Realita Ekonomi (Kolase dari akun pinterest @viral_rang dan @soft_and_cuddly_dream_pets)

TITIKTEMU.CO - Ketika harga kebutuhan pokok naik, biaya kontrakan ikut meroket, dan gaji stagnan tanpa perkembangan berarti, masih adakah ruang untuk hidup tenang ala tren soft life?

Istilah yang digandrungi generasi muda ini identik dengan hidup nyaman, minim stres, tanpa drama, dan fokus pada kesejahteraan diri. Kedengarannya menyenangkan—bahkan ideal.

Namun, realita hidup di tengah ekonomi yang makin menekan sering kali menabrak impian itu keras-keras.

Di media sosial, soft life terlihat seperti hidup kelas menengah atas yang penuh estetika: sarapan avocado toast, journaling, self-care skincare 10 step, staycation tanpa tekanan.

Tapi buat banyak orang, pertanyaan paling jujur hari ini adalah: "Soft life pakai apa kalau duit pas-pasan?"

Baca Juga: Kembali ke Akar: Ketika Urban Farming Jadi Jalan Hidup Mandiri di Tengah Krisis Ekonomi

Apa Sebenarnya Soft Life Itu?

Soft life bukan sekadar gaya hidup konsumtif seperti yang dipamerkan di TikTok atau Instagram.

Awalnya, konsep ini berasal dari komunitas Afrika diaspora sebagai bentuk perlawanan budaya terhadap glorifikasi kerja keras tanpa henti.

Soft life adalah tentang:

  • Hidup berkualitas tanpa tekanan berlebihan
  • Memilih kedamaian dibanding drama
  • Mencari keseimbangan hidup dan kesehatan mental
  • Menghindari hustle culture yang bikin burnout

Masalahnya, konsep positif ini kemudian disalahartikan menjadi gaya hidup “mewah wajib” yang sering berujung pada tekanan sosial dan budaya FOMO.

Baca Juga: Kembali ke Akar: Ketika Urban Farming Jadi Jalan Hidup Mandiri di Tengah Krisis Ekonomi

Soft Life vs Situasi Ekonomi: Tabrakan Keras

Mari realistis. Biaya hidup naik, UMR tidak cukup, cicilan makin banyak, lapangan kerja makin kompetitif—apakah soft life masih relevan?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X