TITIKTEMU.CO - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat suara soal maraknya masuknya balpres ilegal alias pakaian bekas impor selundupan yang membanjiri pasar Indonesia.
Tegas, tanpa basa-basi, Purbaya mengatakan era permainan impor ilegal sudah berakhir.
Ia memberi peringatan terakhir kepada para pelaku untuk berhenti sebelum tindakan hukum diterapkan lebih luas.
“Kami sudah periksa terus di lapangan, jangan harap bisa main seperti dulu. Kalau ketangkap, selesai,” ujarnya di Jakarta.
Baca Juga: Produktif Tanpa Burnout: Seni Menjaga Mental Health di Era Persaingan Kerja
Aturan Baru Akan Lebih Kejam: Bukan Cuma Barang Dimusnahkan, Pelaku Kena Denda Berat
Selama ini, hukuman bagi pelaku impor ilegal dinilai terlalu ringan.
Biasanya hanya barang sitaan dimusnahkan dan pelaku dipenjara, membuat mafia impor masih berani bermain karena tidak merasa dirugikan secara finansial.
Namun ke depan bakal lain. Purbaya menegaskan:
- Barang tetap akan dimusnahkan
- Pelaku dikenakan denda besar
- Tetap dipenjara
- Diblacklist impor seumur hidup
“Biar kapok. Ini bukan urusan main-main lagi,” tegasnya.
Baca Juga: Soft Life vs Realita Hidup: Impian Hidup Tenang di Tengah Harga Melonjak, Masih Masuk Akal?
Fokus Eksekusi Hukum di Jalur yang Masuk Akal
Purbaya menegaskan aturan baru akan dikerjakan di sektor yang memang berada di bawah kewenangan Kementerian Keuangan, terutama Bea Cukai.
Ia menolak narasi yang menyeret-nyeret kementerian lain untuk memperlambat proses.
Artikel Terkait
Drama Kursi Kosong Timnas Indonesia: Nostalgia STY, Eksperimen Kluivert, dan Masa Depan yang Masih Misterius
Sustainable Living: Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Sekadar Gaya Sosial Media?
Beli Mobil Bekas Murah STNK Only, Begini Risikonya
Umrah Mandiri Resmi Dilegalkan, Ini Sederet Pro dan Kontra yang Terjadi
Kembali ke Akar: Ketika Urban Farming Jadi Jalan Hidup Mandiri di Tengah Krisis Ekonomi
Produktif Tanpa Burnout: Seni Menjaga Mental Health di Era Persaingan Kerja
Soft Life vs Realita Hidup: Impian Hidup Tenang di Tengah Harga Melonjak, Masih Masuk Akal?
Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup
Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi
Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Hari Sumpah Pemuda 2025: Inspiratif, Menyentuh, dan Penuh Semangat Persatuan