TITIKTEMU.CO - Isu dugaan keterlibatan Nadiem Makarim dalam perencanaan proyek pengadaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Kemendikbudristek berawal dari grup WhatsApp misterius yang disorot penyidik Kejaksaan Agung.
Namun, kuasa hukum Nadiem, Tabrani Abby, menepis semua dugaan yang mengaitkan grup tersebut dengan proyek pemerintah.
Menurut Abby, grup WhatsApp itu sudah eksis sebelum Nadiem diangkat menjadi menteri.
Jadi, mustahil jika grup tersebut digunakan untuk merancang proyek pengadaan, apalagi yang bernilai triliunan.
Baca Juga: Sustainable Living: Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Sekadar Gaya Sosial Media?
Grup Dibuat Sebelum Nadiem Menjabat Menteri
Abby menjelaskan bahwa grup yang awalnya bernama Edu Org dan Education Council dibuat pada Agustus 2019, jauh sebelum Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem sebagai Mendikbudristek dalam Kabinet Indonesia Maju.
"Tujuan grup itu jelas, ruang tukar pikiran soal masa depan pendidikan nasional berbasis teknologi.
Setelah ada sinyal Jokowi akan menunjuk Pak Nadiem sebagai menteri, nama grup baru diganti menjadi Menteri Core," ujar Abby dalam konferensi pers, 27 Oktober 2025.
Anggota grup itu antara lain Nadiem Makarim, Najela Shihab, Viona, Ibrahim Arief, dan Jurist Tan—semuanya figur pendidikan, bukan pebisnis proyek.
Baca Juga: Revolusi Sepak Bola ASEAN: Lahirnya FIFA ASEAN Cup dan Tantangan Baru untuk Kawasan
Isinya Diskusi Pendidikan, Bukan Bisnis Chromebook
Abby menegaskan, isi obrolan di dalam grup tidak pernah menyentuh soal pengadaan Chromebook atau tender proyek TIK.
Fokusnya murni pada grand strategy pendidikan nasional.
Artikel Terkait
Revolusi Sepak Bola ASEAN: Lahirnya FIFA ASEAN Cup dan Tantangan Baru untuk Kawasan
Drama Kursi Kosong Timnas Indonesia: Nostalgia STY, Eksperimen Kluivert, dan Masa Depan yang Masih Misterius
Sustainable Living: Gaya Hidup Ramah Lingkungan atau Sekadar Gaya Sosial Media?
Beli Mobil Bekas Murah STNK Only, Begini Risikonya
Umrah Mandiri Resmi Dilegalkan, Ini Sederet Pro dan Kontra yang Terjadi
Kembali ke Akar: Ketika Urban Farming Jadi Jalan Hidup Mandiri di Tengah Krisis Ekonomi
Produktif Tanpa Burnout: Seni Menjaga Mental Health di Era Persaingan Kerja
Soft Life vs Realita Hidup: Impian Hidup Tenang di Tengah Harga Melonjak, Masih Masuk Akal?
Slow Living di Kedu: Bukan Hanya Melambatkan Langkah, Tapi Juga Menata Ulang Ritme Hidup
Pagi di Wonosobo Selalu Punya Pesonanya Sendiri: Kabut, Roti Bakar, dan Secangkir Kopi