Kontroversi Proyek Kereta Cepat Whoosh: Dari Skema Jepang ke China, Siapa yang Tanggung Beban Utang?

photo author
Achmad Zainur Roziqin, TitikTemu.co
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 21:19 WIB
Menyoroti kontroversi proyek Whoosh yang diduga mengalami pembengkakan biaya hingga beban utang besar negara. (Instagram.com/@keretacepat_id)
Menyoroti kontroversi proyek Whoosh yang diduga mengalami pembengkakan biaya hingga beban utang besar negara. (Instagram.com/@keretacepat_id)

Namun, berbeda halnya dengan Whoosh yang menyasar kalangan menengah ke atas, sehingga menimbulkan dilema antara kebanggaan nasional dan efisiensi fiskal.

Baca Juga: Pemerintah Kaji Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan, Lebih dari 23 Juta Peserta Masih Menunggak Rp10 Triliun

Desakan Transparansi dan Akuntabilitas

Baik Akbar Faizal maupun Agus Pambagio menilai, kontroversi proyek Whoosh menunjukkan pentingnya transparansi dalam setiap keputusan politik dan ekonomi besar.

“Tidak adil bagi anak-anak bangsa ini, cucu-cucu kita, menanggung beban sebesar ini hanya karena dulu tidak ada yang berani bersuara,” kata Akbar.

Mereka menegaskan, persoalan proyek Whoosh tidak semata soal bunga atau pinjaman luar negeri, tetapi menyangkut tanggung jawab kebijakan dan pengawasan publik atas proyek strategis nasional.

Refleksi: Antara Prestasi dan Beban Generasi

Kini, proyek kereta cepat Whoosh menjadi simbol dua sisi mata uang — kemajuan teknologi transportasi di satu sisi, dan potensi beban finansial jangka panjang di sisi lain.

Polemik ini menegaskan bahwa kemajuan infrastruktur harus dibarengi dengan perencanaan yang matang, keterbukaan data, dan tanggung jawab politik yang jelas agar tidak menjerat generasi mendatang.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Achmad Zainur Roziqin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X