Namun, berbeda halnya dengan Whoosh yang menyasar kalangan menengah ke atas, sehingga menimbulkan dilema antara kebanggaan nasional dan efisiensi fiskal.
Desakan Transparansi dan Akuntabilitas
Baik Akbar Faizal maupun Agus Pambagio menilai, kontroversi proyek Whoosh menunjukkan pentingnya transparansi dalam setiap keputusan politik dan ekonomi besar.
“Tidak adil bagi anak-anak bangsa ini, cucu-cucu kita, menanggung beban sebesar ini hanya karena dulu tidak ada yang berani bersuara,” kata Akbar.
Mereka menegaskan, persoalan proyek Whoosh tidak semata soal bunga atau pinjaman luar negeri, tetapi menyangkut tanggung jawab kebijakan dan pengawasan publik atas proyek strategis nasional.
Refleksi: Antara Prestasi dan Beban Generasi
Kini, proyek kereta cepat Whoosh menjadi simbol dua sisi mata uang — kemajuan teknologi transportasi di satu sisi, dan potensi beban finansial jangka panjang di sisi lain.
Polemik ini menegaskan bahwa kemajuan infrastruktur harus dibarengi dengan perencanaan yang matang, keterbukaan data, dan tanggung jawab politik yang jelas agar tidak menjerat generasi mendatang.***
Artikel Terkait
OJK Ungkap Kerugian Akibat Penipuan Keuangan Capai Rp7 Triliun, Indonesia Tertinggi di Dunia?
Pemerintah Kaji Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan, Lebih dari 23 Juta Peserta Masih Menunggak Rp10 Triliun
Kejagung Sita Aset Diduga Milik Riza Chalid Terkait Kasus Korupsi Minyak Pertamina
Prabowo: Bangsa Indonesia Terlalu Baik dan Mudah Dibohongi, Pemimpin Harus Cerdas dan Waspada
Mahfud MD Nilai Permintaan KPK Soal Laporan Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Sebagai Langkah Aneh